DEMOKRASI COMPETITIVE VS AUTHORITARIANISM

DALAM dunia demokrasi, kompetisi sehat (beradab) jadi acuan dan harapan. Tapi, di tengah gempita slogan demokrasi, hadir istilah competitive authoritarianismMeski istilah ini terkesan sebagai pilihan kata yang kurang tepat, tapi ia terjadi begitu nyata dan sedang "menampar" wajah demokrasi akhir zaman.

Istilah ini dimunculkan oleh Steven Levitsky dan Lucan Way sebagai kritik terhadap praktik sistem demokrasi yang tidak berfungsi secara benar. Sebab, prosesnya "disulap" sebagai kompetisi penuh intrik dan diatur (rekayasa) untuk menciptakan pesta demokrasi yang tidak seimbang (uneven playing field) dan penuh tipu daya. Peng-aturan kompetisi (demokrasi otoritatif) tentu tak lepas dari kepentingan yang direncanakan secara rapi dan melibatkan komunitas (kolektif) yang berorientasi sama. Demokrasi jenis ini dilakukan oleh oknum atau kumpulan pemilik kepenting-an yang terselubung (kolusi, korupsi, dan nepotisme). Akibatnya, kompetisi sebatas teori (lipstik) untuk membungkus kecurang-an agar terlihat obyektif, benar, dan elegan.

Istilah competitive authoritarianism begitu mustahil dalam teori demokrasi. Idealnya, kata kompetisi tak mengenal otoritas dan kata otoritas tak mengenal kompetisi. Tapi, istilah ini justru begitu nyata dalam praktik kehidupan "alam demokrasi". Gaya ini digunakan oleh "rezim hibrida" (hybrid regime) yang ingin memadukan lembaga demokrasi formal dengan kepentingan penuh ambisi.

Tampilan proses kompetisi sebatas "balutan baju" demokrasi, tapi gerak dan ruhnya bermuatan otoritas (diktator) sang "dalang" dalam pementasan wayang demokrasi. Konsepnya kompetisi, tapi telah ada komposisi yang terisi. Komposisi atas pertimbangan kolusi (kesepakatan), korupsi (transaksi pundi), atau nepotisme (kekerabatan). Akibatnya, produk yang dilahirkan melalui competitive authori-tarianism merupakan sosok "tanpa malu melakukan kesalahan dan tak gentar membela yang salah" agar gerbong "tirai" kebohongan kolektif bisa tertutup rapat. Meski tertutup rapat, produk "demokrasi hibrida" bak menyimpan "seonggok bangkai". Walau tersembunyi dan tak ter-sentuh, tapi aroma busuknya begitu menyengat, terendus setiap "hidung" yang sehat, dan mengotori atmosfir peradaban. Ada beberapa dimensi praktik competitive authoritarianism, antara lain :

Pertama, Kompetisi sebatas tulisan di atas kertas (jargon atau teori), tapi praktiknya berisi muatan "skenario" yang direkayasa sesuai keinginan. Akibatnya, terjadi ketidakadilan persaingan atas proses (kompetisi) demokrasi. Meski media sosial begitu intens digunakan sebagai ruang pencitraan untuk menjelaskan "keadilan" (obyektivitas), namun "dibalik pentas" terjadi "bisik-bisik dan transaksi" tersembunyi tapi nyata "di alam Ilahiah". Seakan iman tak lagi tersisa. Padahal, Allah telah berulang kali mengingatkan bahwa semua perbuatan hamba tak lepas dari pengawasan-Nya. Hal ini tertera pada QS. al-Baqarah : 110, QS. Ali Imran : 156, QS. al-Maidah : 71, QS. an-Nisa' : 1, QS. al-An'am : 19, QS. at-Taghabun : 2, QS. al-Hujurat : 18, QS. al-Mujadalah : 1, QS. al-'Alaq : 14, QS. al-Hadid : 4, QS. al-Ahzab : 52, QS. al-Fushilat : 40, QS. al-Mulk : 19, dan lainnya. Hanya saja, manusia begitu suka mempermainkan ayat dan menjual asma-Nya untuk "menghalalkan segala cara". Tak ada yang ditakutkan selain "kepentingan" semata.

Kedua, Kompetisi penuh intrik kebohongan yang melanggar kebebasan, mengambil hak sesamanya, dan menempatkan hukum yang "diseleksi" agar sesuai kepentingan yang diinginkan. Manusia lupa bahwa ke-bohongan merupakan induk kejahatan dan "pintu" kezaliman. Hal ini diingatkan oleh Rasulullah ﷺ dalam sabdanya : "... Dan jauhilah oleh kalian berbohong, karena bohong membawa kepada kejahatan (fujur / kezaliman), dan kejahatan membawa ke neraka" (HR. Bukhari dan Muslim).

Merujuk ayat dan hadis di atas, pepatah mengingatkan "hasil yang didapat dengan kebohongan adalah hutang pada kebenaran"Setiap hutang wajib dilunasi, baik di kehidupan dunia maupun di akhirat. Hal ini berlaku pada setiap pelaku, pembantu, me-nikmati, dan / atau yang mengetahui tapi tak pernah mau peduli (QS. an-Nisa' : 85).

Dalam al-Quran, Allah berulangkali men-jelaskan dampak kebohongan, antara lain :

QS. al-Baqarah : 10 (penyakit hati), QS. Al-Baqarah : 42 (mencampuradukan kebenar-an dengan kebatilan), QS. an-Nisa' : 112 (kebohongan adalah dosa), QS. al-Hajj : 30 (jauhi dusta), QS. an-Nahl : 105 (pedusta tidak beriman), QS. az-Zumar : 3 (pelaku dusta tidak mendapat petunjuk), dan lain-nya. Meski begitu jelas dan berulang diingatkan, namun manusia acapkali mem-permainkan ayat-ayat-Nya.

Padahal, alasan yang dikemukakan (sumpah) merupakan kebohongan yang nyata dan merupakan sifat tercela yang dimurkai-Nya. Hal ini sesuai firman-Nya : "Tidak perlu kamu membuat-buat alasan karena kamu telah kufur sesudah beriman. Jika Kami memaafkan sebagian dari kamu (karena telah bertobat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain), karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berbuat dosa" (QS. at-Taubah : 65-66).

Sungguh, manusia berwatak "jahiliyah" seakan tak pernah mau peduli dan meng-ingkari semua ayat-Nya. Bertopeng kesalehan untuk menutupi kesalahan ala Abdullah bin Ubay bin Salul, tampil suci menyembunyikan dengki ala Qabil, kata lembut tapi hati berkabut (khianat) ala Hatib bin Abi Balta'ah, tampil terdepan agar tampak pejuang hebat (saleh) ala Qotzman sang penghuni neraka di jabal Uhud, dan varian lainnya. Untuk itu, wajar bila Allah menghadirkan azab-Nya. Sebab, kemungkaran dan kemunafikan manusia begitu nyata dan melampaui batas (QS. al-'Alaq : 6-7). Bahkan acapkali melebihi hewan (QS. al-A'raf : 179).

Ketiga, skenario pat-gulipat untuk kepen-tingan keluarga, kroni, atau pemilik pundi. Meski persyaratan disusun rapi, tapi "kumpulan tangan di bawah meja menari" sesuai "irama musik" kepentingan sang dirigen orkestra. Aturan kompetisi sebatas simphoni lantunan "lagu setuju, dukungan, atau diam tanpa suara". Anehnya, semua "aransemen orkestra" jenis ini justeru membuat para pendengar dan penonton terkesima dan --bahkan-- tertidur pulas.

Istilah "pat-gulipat" sering digunakan untuk menggambarkan tindakan curang, khianat, manipulatif, tidak jujur, dan varian lainnya. Praktek "pat-gulipat" dilakukan secara ter-sembunyi, berikut adanya "transaksi" yang disepakati. Semua pelaku secara sadar melakukan kecurangan agar tujuannya ter-capai. Cara ini pasti beririsan dengan peri-laku kezaliman atas pemilik hak yang seharusnya. Sungguh, siasat "pat-gulipat" (curang) merupakan perbuatan tercela. Hal ini diingatkan Rasulullah ﷺ dalam sabda-nya : "Barangsiapa yang berbuat curang /menipu kepada kami (kaum Muslimin), maka ia bukan termasuk golongan kami" (HR. Muslim).

Melalui hadis di atas, Rasulullah ﷺ men-cela segala bentuk penipuan, manipulasi, ketidakjujuran, dan varian lainnya adalah dosa besar. Bahkan, ia tak diakui sebagai umatnya. Sebuah peringatan keras, namun acapkali dipersendaguraukan dan tak dihiraukan. Bila demikian, terbangun kokoh kemunafikan yang terstruktur (pura-pura beriman tapi kufur). Sifat yang demikian dijelaskan oleh Ibnu Taimiyah dalam Majmu' al-Fatawa (jilid 28) bahwa "bila ada manusia (komunitas *pen) yang takut pada sesuatu selain Allah, maka berarti ada penyakit kronis dalam hatinya". 

Dalam Islam, hamba yang hanya takut pada Allah akan mampu menahan hawa nafsu dan tidak mementingkan urusan duniawi secara berlebihan. Sementara hamba yang takut pada "nafsu" (kepen-tingan) akan mempermainkan Allah dan Rasul-Nya. Sosok manusia yang demikian sangat tercela karena sengaja "memper-mainkan agama". Untuk itu, Allah meme-rintahkan pemilik iman agar menjauhi manusia yang berkarakter tercela. Hal ini diingatkan melalui firman-Nya : "Dan tinggalkanlah orang-orang yang menjadi-kan agamanya sebagai permainan dan kelengahan, dan mereka telah tertipu oleh kehidupan dunia. Peringatkanlah (mereka) dengannya (Al-Qur’an) agar seseorang tidak terjerumus (ke dalam neraka), karena perbuatannya sendiri. Tidak ada baginya pelindung dan pemberi syafaat (pertolong-an) selain Allah. Jika dia hendak menebus dengan segala macam tebusan apa pun, niscaya tidak akan diterima. Mereka itulah orang-orang yang dijerumuskan (ke dalam neraka), karena perbuatan mereka sendiri. Mereka mendapat minuman dari air yang mendidih dan azab yang pedih karena mereka selalu kufur" (QS. al-An'am : 70).

Menurut Ibnu Katsir, ayat di atas merupa-kan perintah-Nya kepada orang beriman agar meninggalkan orang-orang yang menjadikan agama sebagai permainan dan senda gurau. Mereka adalah kaum musyrikin yang telah menipu dan tertipu kehidupan dunia dengan mengabaikan akhirat. Sungguh, azab-Nya sangat pedih.

Anehnya, meski ayat di atas begitu jelas dan tegas, namun manusia seakan tak pernah peduli. Menantang ayat Allah de-ngan "membudidayakan" perilaku tercela dengan menghidupkan dan mendukung mazhab authoritarianism. Komunitas ini begitu bangga atas hasil (duniawi) yang diinginkan dan status yang diraih. Tapi, mereka lupa akan murka dan janji-Nya, serta kesengsaraan yang akan ditimpakan di akhirat kelak. Manusia begitu terlena oleh kesenangan semu (harta dan tahta), namun lalai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya. Sungguh kefasikan yang nyata dengan menjadikan dunia sebagai tujuan utama. Manusia yang demikian akan kekal dalam penderitaan (neraka) akibat kemaksiatan dan kelicikan (kemunafikan) yang dilakukan. Ketika iman, akal, dan hati tak lagi berfungsi, maka lakukanlah semua rekayasa yang diinginkan. Manusia begitu mudah dan bisa tertipu, tapi Allah Maha Tau dan tak bisa diperdaya.

Wa Allahua'lam bi al-Shawwab.***

Prof Samsul Nizar adalah Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis

 

GAYA SEORANG PEMIMPIN

DALAM beberapa kajian tentang sifat dan gaya kepimpinan, para pengkaji dalam pelbagai disiplin ilmu bersependapat bahawa seorang yang menampakkan keangkuhan dan kesombongan peribadi tidak boleh diterima baik secara majoriti oleh masyarakat.

Seseorang pemimpin yang angkuh dan sombong sentiasa mempamerkan peribadi yang bertentangan dengan norma umum kerana menganggap orang lain adalah salah manakala diri sendiri sahaja yang betul.

Dalam mempertahankan keputusan yang dibuat, pemimpin yang angkuh dan sombong akan memberikan penjelasan, keputusan yang dibuat itu bukanlah isu yang besar kerana hal itu tidak melibatkan kepentingan umum.

Lumrahnya, seseorang pemimpin yang berperwatakan angkuh dan sombong tidak bersedia menerima nasihat atau pandangan yang diberikan. Kalaupun ada yang memberikan pandangan, pandangan itu dianggap sebagai satu penjelasan yang bodoh dan penuh kenakalan. Pandangan bodoh dan nakal wajib disergah dan ditolak kerana dianggap tidak relevan.

Penolakan ataupun kecaman kepada pemberi nasihat itu menggambarkan emosinya yang tidak stabil dan tertekan. Dalam situasi itu, orang yang memberikan nasihat bukan sahaja diketepikan, ada ketikanya dituduh sebagai tidak menghormati prerogative dan hak eksklusif seorang pemimpin.

Orang yang merasakan dirinya betul dan orang lain salah paling dibenci oleh Allah SWT, kerana sikap itu amat bertentangan dengan hukum moral dan peraturan memimpin.

Seorang pemimpin, sama ada merupakan warisan, dilantik atau dipilih tidak boleh membebaskan dirinya daripada hukum moral dan norma kumpulan orang yang dipimpinnya, kerana dalam Islam tidak ada konsep pemimpin berkuasa mutlak. Pemimpin adalah golongan yang diamanahkan untuk membawa kebaikan kepada golongan yang dipimpin, dan kerana itulah dia tidak boleh bebas daripada ikatan adat, agama dan peraturan berorganisasi.

Seorang pemimpin yang menghormati kuasa atas kepentingan rakyat sentiasa memandu rakyat untuk hidup dalam suasana aman, harmoni dan persekitaran yang selamat. Ia bukan di sebaliknya, hanya mencari jalan selamat untuk diri sendiri manakala rakyat yang ramai dibiarkan berada dalam kesulitan, kesempitan dan kesengsaraan.

Bersandarkan nilai agama, seorang pemimpin adalah sebagai pentadbir. Seorang pentadbir mestilah sanggup melaksanakan tanggungjawabnya dan mempraktikkan makna amanah. Ini bermakna, seorang pemimpin yang baik bersedia menerima dan mendengar nasihat.

Seperti dilakukan oleh Khalifah Umar al-Khattab. Semasa dipilih menggantikan Khalifah Abu Bakar as-Siddik, beliau memberikan pesanan yang amat besar ertinya dalam usahanya untuk memimpin umat Islam.

Bagi Khalifah Umar al-Khattab, seandainya apa yang dilakukan sepanjang kepimpinannya membawa kepada kemaslahatan ummah, ia wajib ditaati tetapi apabila dilaksanakan secara buruk, rakyat berhak untuk menghukumnya dengan pedang. Itu adalah janji pertama yang dibuat oleh Khalifah Umar al-Khattab.

Bagaimanapun, ramai pemimpin Islam ketika ini tidak bersedia untuk menerima hukuman daripada orang yang dipimpinnya, sebaliknya terus mempertahankan kesombongan diri dengan tidak memberikan pengakuan yang jujur kerana mahukan kedudukan yang lebih tinggi.

Adakalanya, pemimpin tersebut sanggup mereka-rekakan alasan untuk membenarkan tindakannya, walaupun alasan itu bukanlah sesuatu yang boleh meredakan rakyat kebanyakan. Akibatnya pemimpin berkenaan semakin tidak dipercayai.

Apabila tindakannya semakin kurang disenangi, sokongan semakin menggelongsong, maka dipersalahkan orang lain konon mengamalkan kaedah politik keji untuk menjatuhkan imej dan membunuh peribadinya. Dalam masa yang sama, rakyat terus menyaksikan pemimpin tersebut semakin ghairah melakukan tindakan semberono kerana semakin terdesak, masa semakin singkat dan di hadapan sedang menanti satu pertarungan yang lebih besar, pertarungan untuk berkuasa.

Fungsi dan kepentingan nasihat adalah penting dalam sesuatu kaedah pentadbiran. Islam mengajar kaedah yang baik dalam usaha memberikan nasihat kepada pemimpin. Nasihat hendaklah dilaksanakan secara berhemah, dan bukannya melempiaskan rasa terkilan itu dengan cara biadab, turun ke jalan raya memberontak dan melancarkan serangan kepada pemimpin.

Secara umumnya pemilihan seseorang pemimpin rakyat berlaku dalam dua situasi. Pertama, rakyat memilih pemimpin berdasarkan peribadi dan ciri kepimpinan yang ada dalam dirinya. Kedua, rakyat dipaksa secara halus memilih pemimpin berdasarkan percubaan mempamerkan kehebatan, kekayaan, kepintaran dan lakonan hebat seseorang kerana dialah yang paling baik dan bijaksana.

Pemimpin yang dipilih berdasarkan kategori pertama akan menjunjung tanggungjawab kerana ia adalah amanah yang wajib dilaksanakan dan bersedia menerima nasihat daripada orang bawahannya. Pemimpin yang berlakon hebat dan bijaksana, tidak boleh menerima kritikan dan nasihat daripada orang bawahannya. Setiap kritik dan nasihat dinilai mempunyai hubungan yang rapat dengan kaedah memburuk-burukkan peribadinya.

Pemimpin yang dipilih berdasarkan situasi kedua tidak boleh menerima kekalahan. Kekalahan dinilai sebagai sabotaj ataupun percubaan mengkhianati dan adanya tangan-tangan ghaib mengganggu kelancaran proses pemilihan. Ini kerana pemimpin itu secara terang-terangan berusaha 'mengangkat bakulnya sendiri' walaupun apa yang diisi dalam bakul itu adalah sampah dan bahan yang tidak berguna bagi menampakkan dirinya hebat, cekap dan mempunyai keupayaan yang besar.

Pemimpin yang meminta-minta untuk dipilih dan suka menonjolkan diri pada awalnya akan mudah berubah peribadi dan sikapnya selepas memperoleh kuasa. Kebiasaannya pemimpin sedemikian mudah hilang janjinya, rakyat yang memilihnya dianggap tidak lagi penting. Rakyat wajib mematuhinya walaupun apa yang dilakukan itu salah dan tidak wajar.

Pemimpin sedemikian mudah bertukar, daripada seorang yang merendah diri kepada seorang yang sombong dan angkuh. Daripada seorang yang mudah dan mesra menjadi seorang yang gilakan penghormatan dan pujian. Tidak boleh menerima berita yang tidak menggembirakan.

Orang di sekelilingnya menjadi semakin tidak jujur, setiap kali bertemu akan menyembunyikan keburukan, kerana keburukan itu didakwa sebagai rekaan dan boleh menyebabkan penyampainya disingkir atau dihina. Suasana itu terus berjalan dalam kebohongan dan kepura-puraan.

Realitinya, pemimpin semakin banyak menipu manakala orang yang berada di sekelilingnya terus mempertahankan penipuan itu, kerana pembohongan akan dilihat seolah-olah benar dan betul apabila terlalu kerap diulang-ulangkan.

Pemimpin bersifat seperti ini sebenarnya berada di bawah pengaruh material keduniaan bersulamkan kekuasaan yang ada di tangannya. Pengaruh itu menyerap masuk ke dalam diri untuk dimanfaatkan secara boros dan tidak terbatas.

Kecenderungan, amalan itu menjadi daya kekuatan untuk digunakan demi kepentingan peribadi sahaja. Soal semangat serta roh spiritual diketepikan secara mudah dan penuh kedangkalan.

Dalam memerihalkan pemimpin yang bersifat sombong, suka mempamerkan kemewahan, ada orang yang sanggup menaja kemewahan sama ada dalam menyediakan kenderaan, kediaman dan tempat perjumpaan, Nabi SAW ada bersabda yang bermaksud: "Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupa paras dan harta benda kamu tetapi Allah hanya memandang kepada niat hati dan amalan kamu."

ULAMA DAN UMARA SALING MELENGKAPI

Kehidupan kini yang begitu moden, canggih, dan pantas dalam semua bidang. Dunia tanpa sempadan menimbulkan banyak sekali persoalan, bukan sahaja tentang kehidupan masa kini, masa depan, malahan tentang kehidupan ukhrawi.

Cabaran sedemikian di depani oleh semua masyarakat dunia dan tidak terkecuali masyarakat Islam. Justeru bukan sekali dua timbul permasalahan, perdebatan, perbahasan dan tidak kurang pula sanggahan sama ada di antara ulama dengan ulama mahupun antara ulama dan umara.

Contoh yang berlaku di hadapan mata kita ialah tentang persoalan Madani atau lebih tepat lagi tentang persoalan gagasan Madani.

Apabila seseorang mengatakan satu kajian perlu dilakukan tentang konsep Madani, banyak pihak dengan mudah mengambil kesimpulan tanpa memberi ruang langsung lalu membuat pelbagai tuduhan.

Tidak ketinggalan juga pihak yang bertentangan atau parti pembangkang yang mengambil kesempatan menggunakan isu tersebut untuk menegakkan benang basahnya. Lalu timbullah fitnah yang pada hakikatnya tidak menguntungkan sesiapa pun kecuali yang berkepentingan sehingga timbullah frasa menperlecehkan dan yang seumpamanya.

Daripada satu segi kita melihat pemikiran masyarakat masa kini begitu negatif sekali. Misalnya, apabila ada pihak yang mengatakan perlunya kajian terhadap sesuatu, maka perkataan “kajian” itu dengan mudah diisi dengan hal yang negatif.

Tidak bolehkah ulama dengan ulama, ulama dengan umara saling lengkap melengkapkan membincangkan sesuatu yang berhubung dengan Islam atau Islam sifatnya?

Gagasan madani yang mula dilancarkan beberapa tahun yang lepas adalah suatu dasar yang berupa kesinambungan daripada dasar yang lalu, misalnya Islam Hadhari, Wassatiyyah, Rahmatan lil Al Alamin, Satu Malaysia atau sebagainya yang bertujuan menjadikan Malaysia sebagai sebuah negara Islam yang maju berasaskan kepada acuan sendiri.

Islam Madani sebagai sebuah dasar ciptaan manusia, tidak boleh tidak ia mempunyai kelebihan dan cacat-celanya yang tersendiri.

Oleh kerana ia ciptaan manusia, maka ia perlu dikaji terutama aspek pelaksanaannya sama ada telah mencapai sasarannya mahupun tidak.

Ia dirangka berasaskan pendekatan wasatiyyah yang diperolehi pemahamannya daripada sumber al-Quran dan Sunnah dan ia haruslah dipandu pelaksanaannya dengan sumber naqli dan aqli berasaskan penegasan Allah SWT dalam surah al-Baqarah ayat 143.

Di sini pentingnya sebuah ummah yang tidak mengamalkan ifrat (ekstrem) dan tasyaddud (melampau) mahupun tafrit (terlalu longgar). Mengikut Muhammad Abduh, sama ada ifrat mahupun tafrit, kedua-duanya adalah tercela.

Indonesia misalnya memperkenalkan Islam Kultural. Malaysia dengan Islam Madani. Ia bukan agama baru sebagaimana yang didakwa (baca: difitnah) oleh sesetengah pihak yang ingin menangguk di air yang belum jernih.

Kita mempunyai banyak sebab menyatakan demikian. Maka dengan sendirinya fitnah yang mengatakan konsep Islam Madani sebagai salah satu strategi Barat atau Eropah untuk ‘menyimpangkan’ pemikiran umat Islam perlu ditolak.

Paling penting adalah butiran dan falsafah konsep Islam Madani yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip asas Islam. Hal ini telah diakui oleh sarjana Islam moden pada peringkat antarabangsa.

Sesungguhnya konsep ini merupakan gagasan pemikiran dan gerak kerja yang amat bermakna bagi Malaysia dalam usaha membangun sebuah negara maju serta bertamadun dalam kerangka ajaran Islam sebagai agama rasmi negara.

Pada asasnya, konsep ini merujuk kepada amalan agama yang menekankan soal ketamadunan, pembangunan dan kemajuan, yang bersifat komprehensif dan seimbang.

Ini merujuk kepada keperluan untuk menggabungkan kecemerlangan aspek fizikal dan spiritual, duniawi dan ukhrawi serta kejayaan peribadi dan kesejahteraan masyarakat.

Bagaimanapun, disebabkan ada umat Islam yang terkeliru dan mengabaikan salah satu dan kedua-dua aspek, maka nilai Madani ini perlu ditekankan bagi meletakkan kembali umat Islam pada landasan sebenar mengikut syariatnya.

Justeru atas dasar inilah nampaknya tugas murni ini patut diteruskan dan diwarisi oleh semua pihak sama ada mereka dapat memahaminya atau tidak.

Kerana itulah perjuangan agama berlangsung sejak daripada Adam, Nuh, Ibrahim sehingga Muhammad SAW.

Dalam hal ini Allah SWT berfirman yang bermaksud: Allah telah menerangkan kepada kamu (mengenai perkara agama) apa yang telah diwahyukan kepada Nuh a.s dan perkara yang Kami wahyukan kepadamu dan pesanan Nabi Ibrahim, Musa, Isa a.s, iaitu hendaklah kamu tegakkan agama ini, dan jangan bercerai dan berpecah. (Maksud al-Quran, Surah Al-Syuraa, ayat 13).

Kepada pihak yang ‘memperlekeh’ dan ‘memusuhi’ usaha murni ini, ingatlah bahawa kita barangkali terlupa untuk menyatakan kebenaran dan kebaikan sesuatu yang diusahakan oleh saudara seagama.

FAHAMAN DEMOKRASI BERMULA ABAD KE-19

Pemikiran baru tentang peraturan kehidupan sosio-politik masuk pada abad ke-19 dari Eropah serta Amerika ke Timur Tengah dan mempengaruhi pemikiran pemimpin Islam. Menurut mereka, umat Islam dapat mengambil secara selektif undang-undang dan konsep baru dari Barat. Salah satunya ialah system demokrasi, yang kemudiannya memancing perdebatan tentang konstitusionalisme (batasan kuasa dan jaminan hak rakyat melalui perlembagaan) dalam system pemerintahan moden dan ajaran Islam tentang syura (majlis).

Kata demokrasi berasal daripada bahasa Yunani: demos (rakyat) dan kratos (pemerintahan). Dalam system demokrasi, masyarakat bertanggungjawab atas nasibnya sendiri. Rakyat berhak menentukan keperluan mereka sendiri dan merupakan sumber kuasa. Rakyat bebas menentukan pilihan yang terbaik baginya. Dalam demokrasi sebenar, setiap warganegara mempunyai hak yang sama untuk turut serta dalam menentukan arah pemerintahan.

DARI RAKYAT UNTUK RAKYAT

Dalam ucapannya di Gettysburg (November 1863), Abraham Lincoln (presiden As) menggambarkan model pemerintahan ideal sebagai dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Pernyataan ini sering kali dirujuk sebagai takrif demokrasi dan merupakan bentuk ideal yang terus dilaksanakan pada abad berikutnya. Idea ini berdasarkan konsep bahawa semua manusia setara dan mempunyai hak asasi (seperti hak hidup, kebebasan dan pencapaian kebahagiaan) yang tidak boleh dirampas.

TEODEMOKRASI

Menurut Abu Ala al-Maududi (m.d. 1979), tokoh Islam India dan Pakistan, syura menjadikan negara Islam mengamalkan demokrasi. Sebutan paling sesuai bagi negara Islam ialah kerajaan Tuhan dengan nama teodemokrasi, yang berdasarkan prinsip kedaulatan Tuhan dan kekhalifahan manusia. Teodemokrasi bersifat teokrasi (segalanya berdasarkan perintah agama) dan mengamalkan demokrasi (setiap umat Islam ialah ejen realisasi mengikut kehendak Tuhan, dan masyarakat harus bermusyawarah).

KONSTITUSIONALISME

Pada akhir abad ke-19, ulama Iran telah memperdebatkan fahaman konstitusionalisme. Oleh sebab peranan pentingnya dalam kehidupan agama, sosial dan politik, ulama Iran merupakan pendukung gerakan konstitusional berpengaruh besar dalam Revolusi Konstitusional (1906). Inti pemikiran konstitusional ini mencakupi batasan kuasa raja. Syeikh Muhammad Husain Naini (m.d. 1936) ialah tokoh Iran yang menegaskan peri pentingnya demokrasi dan konstitusionalisme menurut Islam.

PADANAN SYURA

Ramai pemikir moden Islam menganggap demokrasi sebagai padanan syura dan ijmak (kata sepakat) asalkan bebas daripada pengertian yang bertentangan dengan ajaran Islam. Syura mewakili kedaulatan Tuhan, sedangkan demokrasi berkaitan dengan kedaulatan manusia (rakyat). Syura berfungsi sebagai penasihat (mulimah) dan pengikat (mulzimah) pemerintah. Syura sangat penting kerana tidak ada jaminan bahawa pemerintah, sekalipun orang Islam, selalu mendahulukan kepentingan iman dan rakyat.

PERINTAH AGAMA

Pada abad ke-20, wacana syura dilatarbelakangi oleh pemerintahan autokratik dan diktator di banyak negara Islam. Syura menjadi saluran antara warga dengan negara. Syura menyalurkan nasihat, pengawasan, penyertaan dan kuasa rakyat. Syura ialah perintah wajib agama kepada pemimpin untuk memusyawarahkan pendapatnya dengan rakyat. Masyarakat juga wajib menasihati, mendorong berbuat baik dan melarang pemimpin mereka berbuat mungkar.

AMALAN SYURA

1808- Dalam Kerajaan Uthmaniyah: Sultan Mahmud II mengadakan pertemuan badan penasihat Meclis-I Mesyveret (majlis musyawarah) untuk pertama kali.
1829- Di Mesir: Muhammad Ali (gabenor 1805-1848) menamai salah satu badan penasihat pemerintahannya Majlis al-Masyawarah.
1839- Dalam Kerajaan Uthmaniyah: ada institusi perunding yang disebut sebagai Meclis-I Syura.
1866- Di Mesir: Khedive Ismail menamai majlis penasihatnya Majlis Syura al-Nuwwab (majlis permusyawaratan utusan).

Di Parlimen, rakyat dapat menyuarakan pendapat mereka untuk menjamin kesejahteraan negara melalui wakil yang dipilih dalam pilihan raya umum. Pungutan suara dalam pilihan raya umum di Yaman. Melalui pilihan raya umum, rakyat menentukan calonnya sebagai wakil mereka di perlimen. Presiden Amerika Syarikat, Abraham Lincoln, pencetus idea demokrasi moden. Majlis Syura Iran. Konsep syura diwujudkan dalam bentuk perwakilan perlimen sebagai pengawal pemerintah.

RAKYAT JAHAT DAPAT PEMIMPIN JAHAT

“Dan tiap-tiap berita dari berita Rasul-rasul itu, kami ceritakan kepadamu (wahai Muhammad), untuk menguatkan hatimu dengannya. Dan telah datang kepadamu dalam berita ini kebenaran dan pengajaran serta peringatan bagi orang-orang yang beriman.” - [Surah Hud, ayat 120]

Ayat 120 dalam Surah Hud membawa pengajaran penting, yang harus diperhati oleh setiap muslim. Berita atau khabar besar dalam Al-Qur’an bukanlah untuk dibaca sahaja, sebaliknya perlu ada tindakan aktif oleh pembacanya – sama ada seseorang itu wajib berhenti melakukan dosa dan larangan Allah, atau perlu melaksanakan perintah Allah SWT sebaik mungkin. Kisah Nubuwwah yang terkandung di dalam Surah Hud juga sentiasa relevan dengan keadaan
masyarakat semasa.

Apa yang terjadi zaman dahulu, masih lagi terjadi pada zaman sekarang. Orang Islam tidak boleh melihat kisah Nabi Nuh AS sebagai hanya kisah sejarah sahaja, tetapi wajib ambil pengajaran daripada kisa baginda ini. Dengan setiap kisah-kisah itu, Allah SWT teguhkan hati orang-orang yang mahu mengambil pengajaran darinya. Maka tujuan kisah-kisah itu disampaikan kepada manusia untuk meneguhkan hati.

Mengapa harus teguhkan hati dan bukan tubuh badan? Ia kerana menjalankan kerja-kerja dakwah memerlukan hati yang teguh dan kental. Ia bukan bidang bagi orang yang lemah jiwanya. Hati seseorang jugalah yang menerima kalimat kebenaran, memberi respon kepada peringatan Allah SWT, serta tunduk kepada keagungan nasihat yang terkandung dalam Al-Quran. “Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati) mu, nescaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka. - [Surah Al-Isra’, ayat 74]

Seandainya bukan kerana Allah SWT, maka tidak ada seorang pun yang teguh pendiriannya di atas Islam serta jalan dakwah yang dipenuhi ujian ini, dan sudah tentulah manusia tidak bersabar terhadap tuntutan kebenaran dan risalah sebesar apapun kemampuan dan kekuatannya. Demikian doa Nabi SAW yang bermaksud; “Ya ALLAH, Tuhan yang membolak-balikkan hati-hati, tetapkanlah hatiku pada agamaMu.” - [HR at-Tirmidzi No.3522, Ahmad VI/302, 315 dan al-Hakim I/525]

Justeru kita mempelajari daripada kisah nubuwwah dan mengambil semangat mereka, untuk teguhkan hati dalam berdakwah. Kisah-kisah ini telah memberi semangat kepada Nabi Muhammad SAW dan para sahabat, maka setiap muslim seharusnya mempunyai semangat yang tinggi.

Di dalam kisah-kisah Nabi itu juga ada peringatan. Peringatan adalah kepada perkara yang kita sudah tahu, tetapi diingatkan selalu oleh kerana perangai manusia yang sering terlupa. Al-Qur’an perlu dibaca selalu, dan difahami kisah-kisahnya, supaya dapat menjadi peringatan di dalam hidup setiap muslim.

Kisah-kisah di dalam Al-Quran mampu menjadi pengajaran dan peringatan kepada setiap orang, tetapi yang mengambil manfaat daripadanya adalah orang-orang beriman sahaja. Hanya mereka yang mahu mencari kebenaran dan kerana itu mereka boleh beroleh kebaikan daripada kisah-kisah itu.

Pada hari kiamat ketika seluruh manusia dibangkitkan dari kematian mereka akan membasuh wajah mereka sebagaimana kebiasaan orang yang bangun tidur membasuh wajahnya. Mereka yang hanya tergores sedikit kesalahan jiwanya dapat kembali disucikan, namun mereka yang telah menghitamkan jiwanya akan semakin berada di palung kegelapan.

Jangan biarkan kegelapan cinta dan dunia fana memperdaya diri, sebagaimana tipu daya penjual dan penimbangnya. Sedarlah dan hilangkan warna gelap dari wajah sendiri. Jangan dibiarkan kegelapan warna beradu dengan warna asli wajah kita, hingga menjadi warna yang sama. Segeralah bersihkan wajah dari kegelapan yang menyesatkan itu.

Sesungguhnya di hari kiamat nanti, seorang hamba tidak dapat melarikan diri dari peradilan sehingga menjawab tiga pertanyaan. Pertama, bagaimana engkau menghabiskan umurmu yang berharga? Kedua, bagaimana engkau melewati masa mudamu? Ketiga, dari mana engkau peroleh dan untuk apa kau belanjakan hartamu? “Pada hari dilihatkan segala rahsia.” - [Surah At-Taariq, ayat 9]

Sememangnya seorang manusia itu banyak rahsia. Banyak perkara yang dilakukan oleh pemimpin, persatuan, parti politik, dan sebagainya, dirahsiakan daripada orang awam. Kadangkala rahsia itu terbongkar di dunia, dan memberi
kejutan kepada masyarakat di luar. Jangan kita takut untuk mengbongkar keburukan melakukan rasuah kerana amaran Allah cukup menakutkan seperti mana yang disebut dalam hadis yangg bermaksud: ”Sesungguhnya manusia apabila melihat orang zalim dan lalu mereka tidak mencegahnya maka tidak lama lagi Allah akan meratakan hukuman ke atas mereka.”

Namun ada rahsia yang ditutup oleh Allah SWT di bumi, tetapi akhirnya akan terbongkar juga di akhirat nanti. Inilah bentuk hukuman Allah yang paling dahsyat, kerana orang itu tidak diberi peluang untuk bertaubat di dunia, dan balasan kepadanya di akhirat adalah sangat pedih. Keselamatan di dunia tidak menjaminkan keselesaan di akhirat kelak.

Ingat azab Allah itu lebih dahsyat akibat kezaliman manusia kerana penyebab keosakan peradaban dan lemahnya bangsa seta penyebab terjadinya penindasan kelompok yang kuat atas kelompok yang lemah seperti fiman Allah: ”Dan betapa banyaknya penduduk negeri yang zalim yang telah kami binasakan dan kami adakan sesudah mereka itu kaum yang lain (sebagai penganti)

Dalam hadis yang lain nabi bersabda, ”Ketidakmakmuran umatku terjadi karena kerosakan yang ditimbulkan oleh umatku sendiri, kecuali ia yang berpegang teguh pada ajaranku ketika kerosakan itu terjadi, maka baginya pahala sebagaimana orang yang syahid.”

Rasulullah SAW mengabarkan akan datangnya suatu zaman yang umat manusia justru menyingkirkan manusia-manusia shalih dan memilih para penjahat dan perusak agama sebagai pemimpin mereka.  Siapapun tahu bahwa para pemangku kekuasaan itu lebih didominasi oleh orang-orang yang gila jabatan dan kedudukan, kemashyuran dan kekuasaan

Dr. Ahmad Al-Mubayyadh menjelaskan bahwa fenomena terpilihnya para penjahat dan tersingkirnya orang-orang shalih menggambarkan bahwa keadaaan masyarakat ketika ini memang sudah rusak dan parah. Kerusakan masyarakat secara moral dan spiritual membuat mereka juga menolak jika orang-orang baik memimpin mereka, sebab masyarakat yang telah rusak juga sangat keberatan jika berbagai kesenangan dan syahwat yang selama ini telah menjadi kebiasaan mereka tiba-tiba dihapuskan.

Berat sekali fitnah yang harus dihadapi oleh kaum muslimin di akhir zaman, terutama bila sudah berhadapan dengan kekuasaan yang berada di tangan orang-orang zalim. Fenomena rakyat dan pemimpin yang zalim adalah lingkaran setan yang terus berputar tanpa diketahui jalan untuk memutusnya. Semua saling ketergantungan.
Mungkin tidak banyak yang dapat kita lakukan, namun mudah-mudahan wasiat Nabi SAW ini boleh diperhatikan oleh setiap Muslim:
”Benar-benar akan datang kepada kalian suatu zaman yang para penguasanya menjadikan orang-orang jahat sebagai orang-orang kepercayaan mereka dan mereka menunda-nunda pelaksanaan shalat dari awal waktunya. Barangsiapa mendapati masa mereka, janganlah sekali-kali ia menjadi seorang penasehat, polisi, penarik pajak, atau bendahara bagi mereka.”

Sekularisme telah mempengaruhi masyarakat untuk melihat politik atau kepimpinan semata-mata ruang untuk mendapat habuan dunia, bukan untuk memikul tanggungjawab mendidik dan memimpin masyarakat kepada kesejahteraan dan barakah. Setelah sekian lama, sampai masa untuk setiap muslim bermuhasabah. Bukan sahaja pemimpin, malah rakyat jelata juga tidak terlepas daripada hisab di akhirat. Kembalilah kepada prinsip Islam dalam memilih pemimpin. Pilihlah pemimpin yang tidak mengejar kedudukan untuk bersenang-lenang, tetapi atas rasa tanggungjawab kepada Allah dan sesama manusia.

Saidina Umar ketika diminta untuk menggantikan Saidina Abu Bakar as-Siddiq, telah menghunus pedang dengan berkata; “Kalau aku bengkok, luruskan aku dengan pedang dan jika kamu bengkok, aku juga akan meluruskan kamu
dengan pedang ini.”

Hayati sabda Nabi SAW berkaitan kelebihan dan ancaman kepada pemimpin yang bermaksud; “Tidaklah seseorang diamanahkan memimpin sesuatu kaum kemudian dia meninggal dalam keadaan berkhianat terhadap rakyatnya, maka diharamkan baginya Syurga.” - (HR Bukhari dan Muslim)

Hubungi Kami

Alamat:
No.5B, Jalan 3/70 Damai Point, Seksyen 3, 43650 Bandar Baru Bangi. Selangor

Telefon: +60 17-377 7732
Email: alfalahmadani2022 [@] gmail.com

Jumlah Pengunjung

043570
Hari ini: 201
Minggu Ini: 2,738
Bulan Ini: 9,685
Tahun Ini: 43,570
Tahun Lepas: 52,147
Image

Alfalahmadani.my merupakan sebuah portal yang bertanggungjawab untuk bertindak sebagai penampan bagi setiap tuduhan, fitnah, kekeliruan, ketidakfahaman dan kecelaruan yang berlegar di minda rakyat. Sama ada isu-isu yang timbul secara organik di media sosial, ataupun yang didorong sebagai naratif oleh pihak-pihak tertentu,

Alfalahmadani.my akan menjawab setiap permasalahan dengan pengetahuan, kebijaksanaan dan kebenaran. Tentunya, kehadiran Alfalahmadani.my bukan berhasrat menyatakan kesempurnaan pemikiran, tetapi sebagai wahana untuk menuju kesempurnaan pengetahuan dalam konteks pemikiran semasa, dan kebijaksanaan yang mampu diusahakan.