WAKAF: INVESTASI ABADI YANG MENGHIDUPKAN UMAT DAN MENYELAMATKAN PEMILIKNYA

Terinspirasi dari khutbah Juma’t, 10/07/2026, Mesjid Khairunnas 

Di tengah budaya modern yang sering mengukur keberhasilan dari banyaknya harta yang dimiliki, Islam justru mengajarkan ukuran yang berbeda. Kemuliaan seorang hamba bukan terletak pada seberapa besar kekayaan yang berhasil dikumpulkan, tetapi seberapa besar manfaat yang mampu diwariskan kepada sesama.

Khutbah Jumat ini mengingatkan bahwa perjalanan menuju Allah memerlukan bekal terbaik, yaitu takwa. Sebagaimana firman Allah:

”…Berbekallah kalian, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.”
(QS. Al-Baqarah: 197)

Takwa tidak hanya diwujudkan dalam ibadah ritual seperti shalat, puasa, zikir, dan tilawah, tetapi juga dalam kepedulian sosial yang menghadirkan manfaat bagi kehidupan manusia. Salah satu bentuk nyata dari kepedulian tersebut adalah wakaf.

Wakaf: Ketika Harta Berhenti Menjadi Milik, tetapi Pahala Terus Mengalir

Khutbah ini mengangkat satu pesan yang sangat mendalam: wakaf bukan sekadar menyerahkan aset kepada masjid atau lembaga agama, melainkan mengubah harta yang fana menjadi amal yang kekal.

Dalam Islam, wakaf berarti menahan pokok harta dan mengalirkan manfaatnya untuk kepentingan umat. Pokoknya tetap ada, tetapi manfaatnya terus hidup.

Inilah yang dimaksud Rasulullah ﷺ dalam hadis:

“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah seluruh amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.”
(HR. Muslim)

Mayoritas ulama menjelaskan bahwa bentuk sedekah jariyah yang paling nyata adalah wakaf karena manfaatnya terus berlangsung selama aset tersebut digunakan.

Dengan demikian, wakaf sebenarnya adalah cara Islam mengubah kekayaan menjadi pahala yang tidak mengenal batas usia manusia.

Kebaikan Tidak Diukur dari Banyaknya Harta, tetapi dari Apa yang Dikorbankan

Khutbah mengutip firman Allah:

“Kamu sekali-kali tidak akan memperoleh kebajikan yang sempurna sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai…”
(QS. Ali ’Imran: 92)

Ayat ini mengandung prinsip yang sangat penting.

Allah tidak meminta sisa harta kita.

Allah meminta sesuatu yang kita cintai.

Di sinilah letak ujian keimanan.

Memberikan barang yang tidak lagi dipakai bukanlah pengorbanan besar.

Namun menyerahkan sesuatu yang bernilai, produktif, dan dicintai merupakan bukti bahwa kecintaan kepada Allah lebih besar daripada kecintaan kepada dunia.

Tidak mengherankan apabila setelah ayat ini turun, para sahabat berlomba menyerahkan aset terbaik mereka.

Abu Talhah al-Ansari mewakafkan kebun terbaiknya, sementara Umar bin al-Khattab mewakafkan tanah produktifnya di Khaibar atas arahan Rasulullah ﷺ.

Generasi terbaik tidak memberikan sisa kekayaan.

Mereka memberikan yang terbaik.

Wakaf Membangun Peradaban, Bukan Sekadar Bangunan

Kesalahan yang sering terjadi di masyarakat adalah menganggap wakaf hanya identik dengan pembangunan masjid atau pemakaman.

Padahal sejarah Islam menunjukkan bahwa wakaf membangun hampir seluruh infrastruktur peradaban.

Universitas.
Rumah sakit.
Perpustakaan.
Sumur.
Lahan pertanian.
Lembaga riset.
Beasiswa.
Pelayanan sosial.

Seluruhnya pernah berkembang melalui sistem wakaf.

Artinya, wakaf bukan hanya ibadah individual.

Wakaf adalah instrumen pembangunan sosial, pendidikan, ekonomi, bahkan peradaban.

Kekayaan adalah Amanah, Bukan Prestasi

Khutbah juga mengingatkan bahwa semakin besar harta seseorang, semakin besar pula hisabnya.

Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa manusia tidak akan bergeser dari tempat hisab sebelum ditanya tentang hartanya:

* dari mana diperoleh,
* dan untuk apa dibelanjakan.

Karena itu, wakaf sesungguhnya bukan mengurangi harta.

Wakaf justru mengurangi beban pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Sebagian kekayaan dipindahkan dari rekening dunia menuju tabungan akhirat.

Dalam perspektif ini, wakaf adalah strategi spiritual yang sangat cerdas.

Kritik terhadap Budaya Konsumtif

Khutbah ini juga secara tidak langsung mengkritik pola hidup modern.

Banyak orang sibuk membeli aset baru.
Menambah kendaraan.
Menambah rumah.
Menambah investasi.

Namun sangat sedikit yang berpikir bagaimana aset-aset tersebut dapat terus menghasilkan pahala setelah dirinya meninggal.

Padahal Allah telah mengingatkan:

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.”
(QS. At-Takatsur: 1–2)

Surah ini bukan melarang memiliki kekayaan.

Yang dilarang adalah ketika kekayaan membuat manusia lupa tujuan hidupnya.

Refleksi bagi Dunia Pendidikan

Bagi lembaga pendidikan Islam, wakaf merupakan fondasi keberlanjutan.

Sekolah yang bergantung sepenuhnya pada biaya pendidikan akan selalu menghadapi keterbatasan.

Namun sekolah yang memiliki budaya wakaf mampu membangun:

* perpustakaan,
* laboratorium,
* beasiswa,
* pusat riset,
* asrama,
* dana abadi pendidikan,
* bahkan pengembangan guru secara berkelanjutan.

Banyak universitas besar di dunia berkembang melalui dana abadi (endowment). Dalam tradisi Islam, konsep tersebut telah lama dikenal melalui wakaf.

Karena itu, membangun budaya wakaf pendidikan bukan sekadar memenuhi kebutuhan hari ini, tetapi menyiapkan generasi masa depan.

Penutup

Khutbah ini mengajarkan bahwa manusia tidak akan membawa satu meter tanah, satu lembar sertifikat, ataupun satu rupiah ke alam kubur.

Yang akan menemani hanyalah amal yang pernah memberikan manfaat bagi orang lain.

Wakaf mengubah kepemilikan menjadi keberkahan.

Mengubah kekayaan menjadi amal.

Mengubah dunia menjadi jalan menuju akhirat.

Harta yang disimpan akan berhenti ketika pemiliknya meninggal.

Namun harta yang diwakafkan akan terus bekerja, mengalirkan manfaat, dan menjadi saksi bahwa seseorang pernah hidup untuk memberi.

“Orang kaya bukanlah yang paling banyak mengumpulkan harta, tetapi yang paling banyak meninggalkan manfaat. Sebab ketika kehidupan berakhir, bukan nilai aset yang ditanya Allah, melainkan nilai amanah yang telah kita tunaikan.”

MENOLAK MAFSADAT DIDAHULUKAN DARIPADA MENGAMBIL MANFAAT

Dalil dari kaedah ini adalah:

1. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.” (QS. Al-An’am: 108).

Allah mengharamkan mencela sesembahan kaum musyrikin. Padahal celaan tersebut merupakan kemarahan dan kecemburuan karena Allah dan sebagai bentuk penghinaan kepada sesembahan mereka. Musababnya, celaan tersebut merupakan pengantar munculnya celaan mereka kepada Allah dan maslahat tidak dicelanya Allah Subhanahu wa Ta’ala itu lebih besar daripada maslahat celaan kita pada sesembahan mereka.

Telah datang dalam hadis Aisyah radhiyallahu ‘anha; Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Wahai Aisyah, seandainya kaummu bukan orang-orang yang baru meninggalkan masa jahiliah, tentu aku perintahkan agar Baitullah dirombak. Kemudian aku bangun dan aku masukkan apa yang dikeluarkan darinya, dan niscaya aku turunkan sejajar dengan tanah ….” (Muttafaq ‘alaih).

Dalam hadis ini terdapat indikasi yang jelas atas makna kaedah ini. Yaitu ketika Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam meninggalkan maslahat membangun Baitullah al-‘atiq di atas pondasi Ibrahim ‘alaihis salam demi menolak mafsadat yang dikhawatirkan terjadi (apabila beliau meruntuhkan Ka’bah kemudian membangun kembali), yaitu larinya manusia dari Islam atau murtadnya mereka disebabkan perbuatan tersebut. Dengan demikian, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam mendahulukan menolak mafsadat ini daripada mengejar maslahat tersebut.

Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam menahan diri dari memerangi orang-orang munafik. Padahal itu mengandung kemaslahatan. Ini dimaksudkan agar tidak menjadi penyebab larinya manusia dan menimbulkan penilaian mereka bahwa Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam membunuh sahabatnya.

Larangan Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam dari memerangi pemimpin dan memberontak kepada imam (penguasa) walaupun mereka berbuat zalim, selama mereka melaksanakan shalat. Tujuannya, yaitu demi menutup pintu-pintu yang boleh mengarah kepada kerusakan yang besar dan keburukan yang banyak. Alasannya, memerangi dan memberontak terhadap penguasa menyebabkan timbulnya kemungkaran yang berlipat ganda daripada kemungkaran-kemungkaran yang sudah ada, sedangkan umat tetap berada dalam akibat-akibat kejelekan sampai sekarang.

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

Jika dua khalifah di-bai’at maka perangilah yang kedua.” (HR. Muslim, dari Abu Sa’id).

Hal itu dilakukan sebagai bentuk penjagaan terhadap fitnah (ujian, ed.).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah telah menyebutkan sejumlah cabang yang bersumber dari kaedah “menolak mafsadat lebih utama daripada mengambil maslahat”. Selanjutnya, beliau rahimahullah menyampaikan bahwa jika maslahat dan mafsadat bertemu, maka yang diutamakan adalah yang paling kuat dari keduanya.

Secara terperinci, beliau menjelaskan sebuah pemaparan yang intinya:

  • Termasuk pokok ajaran ahlus sunnah wal jama’ah adalah: mengikuti al-jamaah, tidak memerangi para pemimpin (yakni pemimpin yang fasik), dan menghindari peperangan di masa fitnah (tertimpa ujian, ed.).
  • Intisari hal itu masuk dalam kaidah yang umum “apabila betemu antara maslahat dan mafsadat, kebaikan dan kejelekan, atau saling berbenturan, maka wajib menimbang yang paling kuat di antara keduanya”.
  • Dasarnya, sesungguhnya perintah dan larangan – walaupun dapat membuahkan kemaslahatan dan menolak mafsadat – tetap harus diteliti bila saling berbenturan. Jika maslahat yang hilang atau mafsadat yang terjadi lebih banyak, maka hal itu tidak diperintahkan. Bahkan hukumnya haram jika mafsadat yang timbul lebih besar daripada maslahat yang didapat.

Syaikhul Islam juga memperinci bahwa ukuran maslahat dan mafsadat harus diukur dengan timbangan syariat. Atas dasar ini, jika ada seseorang atau kelompok yang di dalamnya tergabung hal-hal ma’ruf dan mungkar – dan mereka tidak bisa memisahkan antara keduanya, bahkan mereka mengerjakan semuanya atau meninggalkan semuanya – maka orang/kelompok tersebut tidak boleh diperintah mengerjakan hal ma’ruf atau dicegah dari kemungkaran kecuali setelah permasalahan tersebut diteliti.

  1. Jika perkara ma’rufnya lebih banyak maka: [i] Hal tersebut diperintahkan walau berkonsekuensi melahirkan kemungkaran yang lebih kecil; [ii] Jangan dicegah dari kemungkaran jika berkonsekuensi hilangnya perkara ma’ruf yang lebih besar. Karena mencegah orang/kelompok tersebut pada kondisi ini termasuk usaha untuk menghilangkan ketaatan kepada-Nya dan Rasul-nya serta menghilangkan perbuatan baik.
  2. Jika kemungkaran lebih besar maka perbuatan tersebut harus dicegah walaupun berkonsekuensi menghilangkan perkara ma’ruf yang lebih ringan. Dalam kondisi seperti ini, memerintahkan kepada yang ma’ruf dengan melahirkan kemungkaran yang lebih besar termasuk perkara mungkar dan merupakan usaha yang mendukung kemaksiatan kepada Allah dan Rasul-Nya.
  3. Jika ma’ruf dan mungkar berimbang dan saling berkaitan, maka tidaklah diperintahkan kepada keduanya, dan terkadang baik untuk diperintahkan juga terkadang baik untuk dicegah, dan terkadang tidak baik untuk diperintah atau tidak baik untuk dicegah karena yang ma’ruf dan yang mungkar saling berkaitan. Hal itu kadang terjadi pada kasus tertentu.
  4. Adapun dari sisi jenisnya maka diperintahkan kepada yang ma’ruf secara mutlak, dan dilarang dari yang mungkar secara mutlak pula. Penerapannya pada diri seseorang dan sebuah kelompok adalah dengan memerintahkannya kepada perkara ma’ruf dan mencegahnya dari kemungkaran. Perbuatan tersebut terpuji bila perintah kepada yang ma’ruf tidak menimbulkan hilangnya perkara ma’ruf yang lebih besar atau melahirkan kemungkaran yang lebih besar. Juga apabila mencegah kemungkaran tidak menimbulkan kemungkaran yang lebih besar atau hilangnya perkara ma’ruf yang lebih banyak. (Majmu’ Al-Fatawa, 28:128–131; kitab Al-Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil Munkar, hlm. 21).

Disarikan dari buku Jadilah Salafi Sejati (terjemahan dari kitab Kun Salafiyyan ‘alal Jaddah). Syaikh Dr. Abdussalam bin Salim As-Suhaimi. 2007. Jakarta: Pustaka At-Tazkia.

Sumber: muslimah.or.id

MENJAGA AGAMA

Agama merupakan bagian terpenting bagi manusia. Dogma agama pada tataran tertentu bahkan lebih kuat pengaruhnya dibanding ajaran-ajaran lainnya. Sebagian orang tentu akan menyalahkan penelitian ketika hasil dari penelitian itu dipandang bertentangan dengan agama. Orang-orang seperti ini biasanya akan menjadikan Tuhan sebagai kambing hitam untuk membenarkan pandangannya dengan membawa-bawa Tuhan—padahal belum tentu sesuai pemahamannya dengan maksud Tuhan—sebagai tameng.

Begitu besarnya pengaruh agama, maka pemahaman yang benar terhadapnya tentu akan berefek kepada besarnya kebaikan yang kita lakukan, dan pemahaman yang keliru tentu akan berefek kepada perbuatan jelek dan tercela (‘aqidah shahihah akan melahirkan ‘amal shalihah, begitupun sebaliknya). Adapun perilaku buruk yang muncul dari keyakinan ini disebabkan oleh minimal dua faktor; agama dan diri kita sendiri. Terkadang, ajaran agama telah benar, namun karena keterbatasan kita, ajaran suci itu seolah salah. Di sisi lain, justru dogma atau ajaran itulah yang salah. Ini berlaku terhadap  seluruh umat beragama terhadap agama orang lain. Muslim tentu akan meyakini Islam sebagai ajaran yang benar, ajaran yang berada di sisi Allah. Kristen juga demikian, dst. Perbedaan-perbedaan ini menunjukkan bahwa satu di antaranya mesti adalah kebenaran.

Secara subjektif, penulis mungkin saja akan mengatakan bahwa “Agama sayalah yang benar, agama lain sudah batal dengan datangnya ajaran terakhir ini (Islam)”. Tapi, hal ini tentu akan mendapat bantahan-bantahan yang sejak dulu hingga sekarang, tidak akan pernah ada kesepakatan terkait agama mana yang paling benar. Semua berada di posisinya masing-masing.

Eksistensi agama-agama yang ada di dunia memang tidak bisa dinafikan, bahkan dimusnahkan. Nabi Muhammad Saw., dulu pernah meminta kepada Allah agar semua orang masuk Islam. Tapi, Allah menunjukkan kekuasaan-Nya dengan berkata, “Sekiranya Aku menghendaki, maka semua mereka akan masuk Islam”. Kenyataannya, Allah tidak melakukan hal itu, ini pertanda bahwa perbedaan itu sunnatullah.

Kenyataan di atas masih juga ditolak oleh sebagian manusia. Masih ada sebagian orang yang ingin memaksakan kehendaknya agar diterima dan dipatuhi oleh orang lain. Pemaksaan ini pada gilirannya akan menimbulkan konflik yang mengatasnamakan agama. Atas nama agama, penganut agama lain harus dibunuh. Atas nama agama, suatu aliran dicap sesat, dan yang sesat harus dimusnahkan, bahkan penganutnya juga.

Atas nama agama, jalan kekerasan adalah jihad yang menjamin syurga. Bablasnya, atas nama agama pula, larangan agama justru dilanggar. Fenomena yang memilukan hati para pecinta damai. Ini merupakan gambaran betapa ngototnya mereka, begitu nafsunya mereka, bahkan, agama yang katanya diperjuangkan, faktanya malah patuh terhadap tafsir yang mereka inginkan.

Lantas, apa sebenarnya yang dikehendaki agama? Bagaimana agama memberi garis dirinya dan agama di luarnya? Inilah pertanyaan mendasar yang ingin dijelaskan dalam tulisan ini. Setidaknya, meski menggunakan satu perspektif saja (Islam), penulis berharap agar hidup berdampingan, perdamaian abadi, dan adil tanpa diskriminasi selalu terjaga. Dalam hidup bernegara, sekurang-kurangnya penulis berharap tulisan ini mampu menstimulir hukum nasional dalam kaitannya dengan perlindungan Negara terhadap agama.

Tujuan Syari’at
Perintah, larangan, dan apapun bentuknya, tentu memiliki hikmah tersendiri. Terlepas dari adanya anggapan bahwa hikmah yang mendasari munculnya perintah/ larangan/ pembolehan dsb, atau anggapan bahwa hikmah adalah efek dari syari’at yang ada karena Allah tidak terikat oleh apapun. Ia bisa saja menentukan apa saja yang dikehendaki-Nya. Terlepas dari itu semua, penulis hanya ingin berkata bahwa pen-syari’at-an tentu memiliki tujuan tersendiri. Al-Syatibi melaporkan bahwa kesimpulan para ulama dalam mengkaji ayat-ayat al-Qur’an dan hadits Nabi adalah bahwa Allah menghendaki kemashlahatan di setiap syari’at yang Ia tetapkan.

Tujuan itu dibagi menjadi tiga kategori; dharuriyat (primer), hajiyat (sekunder), dan tahsiniyat (tersier). Untuk kategori pertama, dikatakan bahwa ada enam tujuan dari maqashidu al-syari’ah dalam memenuhi kebutuhan manusia yaitu, menjaga agama, menjaga jiwa, menjaga akal, menjaga keturunan, dan menjaga harta, dan terakhir menjaga kehormatan. Tentu hal ini tidak baku. Di kemudian bisa saja dirumuskan bahwa menjaga lingkungan juga termasuk perlindungan dasar dalam Islam.

Menjaga Agama (Sebuah Tujuan Syari’at)
Tidak dipungkiri lagi bahwa dari sekian banyak perintah dan larangan agama, salah satu tujuannya adalah melindungi atau menjaga agama itu sendiri. Hifdhzu al-din (menjaga agama) ini disebut sebagai tujuan pokok (primer/dharuriyat) dari pen-syari’at-an atau lebih dikenal dengan istilah maqashidu al-syari’ah dalam kajian fiqh dan ushul. Sehingga, segala bentuk mengada-ada (bid’ah), pengkultusan, atau bahkan ingin merong-rong ajaran agama dari luar (murtad), bisa dipidana berdasarkan ketentuan.

Jika ditinjau dari sisi mana agama itu diserang, maka harus diakui bahwa pemeluk agama itu sendiri terkadang adalah musuh paling berbahaya. Ada dua bentuk penjagaan yang dapat kita pahami dalam dalil-dalil al-Qur’an dan Sunnah, yaitu dari dalam (muslim itu sendiri) dan dari luar (non-muslim).

Penyerangan dari dalam dapat dilihat dari adanya larangan melakukan perbuatan-perbuatan syirik, tahayyul, khurafat, dan bid’ah. Pelakunya tentu dari kalangan muslim yang bisa jadi kurang mengerti, atau memang gemar menebar kebohongan. Bahkan, muslim seperti  ini kerap kali mencari pemahaman yang berbeda demi mendukung perbuatannya.

Contohnya saja adalah para pelaku bid’ah, mula-mula mereka menyebut amalannya dengan sunnah, lantas jika dapat  dibantah mereka menyebutnya dengan bid’ah tapi tidak sesat, melainkan bid’ah  hasanah. Jika dibantah lagi, mereka menyebut amalannya sebagai adat. Bagi mereka, yang terpenting amalan demikian mesti tetap dipraktekkan, dijaga kelestariannya.

Kedua adalah penyerangan dari luar. Ini bisa berupa fitnah dari non-Muslim atau muslim yang murtad. Oleh karenanya, Allah dan rasul-Nya memerintahkan orang-orang seperti ini untuk diperangi, sekiranya mereka surut dan tidak memusuhi, maka tidak ada lagi permusuhan (QS. Al-Baqarah 2:193). Hal ini juga bisa dilihat dari hadits tentang pemberontak (bughah), sanksi bagi orang yang keluar dari Islam dan menyerang Islam, serta dalil-dalil lainnya.

Contoh-contoh di atas adalah bentuk penjagaan yang disyari’atkan oleh agama Islam terhadap Islam itu sendiri. Sebagai rahmat bagi seru sekalian alam, maka Islam tidak sekadar melindungi ajarannya, melainkan juga sebagai rahmat bagi yang lain. Sehingga, perlu dijelaskan pula bahwa agama lain juga harus dijaga eksistensinya. Sehingga, anggapan bahwa di Negara Islam (wilayah yang mayoritas penduduknya adalah Islam) tidak boleh berdiri rumah-rumah ibadat non-muslim adalah kesalahan besar. Piagam madinah adalah bukti di mana non-muslim berada di posisi aman, tentram, meski pemimpinnya adalah Rasul sendiri.

Lebih dari pada itu, menjaga ketentraman ibadah non-muslim merupakan kewajiban Negara apalagi Negara Islam. Dengan konsep Islam, terlihat jelas batasan-batasan yang menguntungkan dan rahmat bagi semua pihak. Toleransi seperti inilah yang kiranya diharap mampu mempertemukan muslim dan non-muslim dalam hubungan mu’amalah. Adapun dalam persoalan ibadah, maka perlu ditegaskan bahwa “Bagimu agamamu, bagiku agamaku, dst”.

Seandainya hal ini dapat dipahami oleh semua orang, maka untuk urusan ibadah dan keyakinan, kita tidak lagi bersikap memaksa orang lain untuk mengikuti kebenaran yang kita yakini. Apalagi memunculkan sikap anarkis seperti rebutan masjid sebagaimana yang pernah terjadi di Aceh, juga pembakaran gereja dan masjid yang terjadi di beberapa daerah.

Jika ulasan di atas dapat dimengerti, harmonisnya hubungan antar aliran, kelompok atau umat beragama tentu akan terwujud. Bahkan, sikap menghalang-halangi ummat lain untuk beribadah dengan menyegel rumah-rumah ibadah mereka akan berbalik menjadi saling memberi peluang untuk kebebasan mereka dalam beribadah. Konstitusi Negara ini menjamin hal itu. Allahu a’lam

FENOMENA KERUNTUHAN UMMAH

Umat Islam. Dahulu dihormati, kini ditolak ke tepi. Dahulu disegani, kini tidak lagi ditakuti. Kekuatan ummah dalam jumlah tidak diterjemahkan menjadi satu tujuan yang bermakna. Mengapakah umat Islam begitu lemah, dan bagaimana untuk mengatasinya.

Umat Islam hari ini terpecah-belah dalam pelbagai aspek; perbezaan mazhab, politik, nasionalisme dan bangsa. Sementara itu, krisis moral seperti rasuah, zina, dan kehilangan al-haya’ atau sifat malu, membelenggu ummah, digandakan oleh kehadiran media sosial. Orang Islam bergantung kepada pada dunia Barat dalam pemikiran, ekonomi, dan budaya.

Sedangkan Tauhid, Dakwah dan Jihad, harus mengisi semua aspek kehidupan seorang Muslim, sama ada di kalangan pemimpin, penguasa, ketua keluarga, para pendidik dan asatizah, pekerja, ahli perniagaan, dan sebagainya, kerana Islam merupakan agama yang menyeluruh atau syumul. Ini bertepatan dengan konsep Islam sebagai ad-Din, yang merangkumi bukan hanya ibadah khusus, tetapi juga sistem hidup yang lengkap.

Al-Quran telah menegaskan kesatuan Iman dan Amal. Allah SWT berfirman yang bermaksud; “Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah kamu ke dalam Agama Islam (dengan mematuhi) segala hukum-hukumnya; dan janganlah kamu menurut jejak langkah Syaitan; sesungguhnya Syaitan itu musuh bagi kamu yang terang nyata.” - (Surah Al-Baqarah, Ayat 208)

Ayat ini menekankan perlunya komitmen menyeluruh terhadap Islam dalam semua aspek kehidupan. Di dalam sebuah hadith, Nabi SAW menerangkan tentang tanggungjawab seorang pemimpin dan setiap individu; “Setiap dari kamu adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan diminta pertanggungjawaban atas kepimpinannya.” - (HR Bukhari & Muslim)

Ini menunjukkan bahawa Islam meletakkan prinsip tauhid dan dakwah sebagai asas kepimpinan dalam semua peringkat, termasuk keluarga, pekerjaan, dan pemerintahan. Berkenaan konsep Jihad pula, yang harus diamalkan oleh setiap muslim, ia adalah konsep yang luas. Tidak seperti yang digambarkan oleh propaganda Barat, yang menyamakan Jihad dengan peperangan dan pertumpuhan darah. Allah SWT berfirman; “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keredhaan) Kami, nescaya Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” - (Surah Al-Ankabut, Ayat 69)

Jihad bukan hanya bermaksud perang, tetapi juga usaha bersungguh-sungguh dalam menegakkan kebenaran, termasuk dalam pekerjaan, pendidikan, dan kepimpinan berlandaskan ajaran Islam. Setiap muslim berjihad dalam memerangi nafsu, syaitan dan penyelewengan intelektual.

Manakala Tauhid sepatutnya dijadikan sebagai asas kepada segala tindakan atau tingkah-laku seorang muslim. Allah berfirman di dalam surah Az-Zumar yang bermaksud; “Katakanlah (wahai Muhammad): Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama.” - (Surah Az-Zumar, Ayat 11)

Prinsip tauhid menuntut agar setiap tindakan seorang Muslim dilakukan dengan niat kerana Allah, termasuk dalam urusan duniawi seperti perniagaan, politik, dan pendidikan. Imam Al-Ghazali RH dalam Ihya Ulumuddin menegaskan bahawa setiap aspek kehidupan termasuk pentadbiran, ekonomi, dan keamanan perlu dipandu oleh prinsip Islam. Jika tidak, masyarakat akan rosak. Ibnu Taimiyyah RH dalam As-Siyasah Asy-Syar'iyyah pula menjelaskan bahawa pemerintah dan pemimpin wajib menjalankan tugas berdasarkan syariat, kerana kekuasaan adalah amanah Allah.

Dari sudut Dakwah, ia sebenarnya merupakan kewajipan setiap muslim. Dakwah bukan hanya tugas para ulama, tetapi juga tanggungjawab setiap Muslim dalam bidang masing-masing. Dakwah tidak bermakna berdiri diatas pentas untuk berceramah sahaja, setiap muslim diberi peluang untuk berdakwah, melalui adabnya, kelakuannya dan interaksinya dengan orang-orang lain.
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang mungkar.” - Surah Ali Imran (3:104)

Ramai Muslim menganggap Islam sekadar ritual ibadah yang dijelmakan melalui solat, puasa, dan zakat, tetapi tidak menjadikan agama Islam sebagai panduan dalam politik, ekonomi, pendidikan, dan sosial. Contoh yang boleh dilihat hari ini adalah seperti golongan pemimpin yang lebih mementingkan kuasa, mengagungkan ajaran Machiavelli, daripada menegakkan keadilan yang dituntut oleh agama Islam.

Perniagaan hari ini dipenuhi riba dan penipuan. Orang Islam menyarung jubah dan janggut, memegang watak Islamik tetapi perniagaannya berasaskan penipuan. Sekularisme dalam pendidikan telah memisahkan nilai Tauhid dalam keilmuan. Manakala media dan hiburan dipengaruhi nilai sekular dan hedonisme.

Lihatlah bagaimana seorang pemimpin sanggup mencerca lawannya demi perebutan kuasa, dicanang ke hulu ke hilir kelemahan seteru politiknya, agar dirinya dilihat sebagai pilihan lebih baik. Adakah ini ajaran Nabi SAW atau ajaran Machiavelli? Sungguh lemah pengamatan Islam di kalangan pemimpin hari ini, baik yang sentris maupun yang islamis.

Umat Islam di bawah pula asyik menyibukkan diri dengan hal-ehwal media sosial, hingga muncul pihak yang bergaduh hingga bercerai sambil rakaman ‘live’. Hal-hal aib dibuka kepada umum tanpa rasa malu, mencerminkan kehilangan rasa malu atau al-haya’. Budaya influencer atau pempengaruh yang mempromosi gaya hidup hedonistik tanpa kawalan, mengagungkan kekayaan material dan populariti palsu.

Islam mengajar bahawa agama bukan hanya ritual, tetapi panduan menyeluruh dalam semua aspek kehidupan. Doktrin Dakwah iaitu menyeru kepada kebaikan, Jihad iaitu berusaha menegakkan kebenaran, dan Tauhid iaitu mengikhlaskan segala amalan kepada Allah, harus menjadi asas dalam peranan seseorang, sama ada sebagai pemimpin, pekerja, tentera, atau ahli perniagaan.

Pendekatan ini juga selari dengan konsep Islamization of Knowledge (Pengislaman Ilmu) seperti yang digariskan oleh sarjana kontemporari seperti Ismail Raji al-Faruqi, yang menekankan perlunya integrasi nilai Islam dalam semua bidang kehidupan.

Ramai umat Islam hari ini bekerja bukan kerana Allah SWT, tetapi kerana wang, pangkat, atau populariti. Sistem hidup mengikut acuan sekularisme dan kapitalisme ini sangat bercanggah dengan konsep yang diajarkan oleh syariah.

Maka Ruh sebagai seorang muslim telah luntur dalam banyak aspek. Nabi SAW telah bersabda bahawa akan datang kepada umat Islam penyakit al-Wahn, iaitu cintakan dunia dan takutkan mati. Berkata seorang sahabat, “Adakah ia lantaran pada waktu kita yang sedikit?” Nabi menjawab, “Tidak! sebaliknya kamu ramai tetapi kamu menjadi seperti buih-buih di lautan. Allah mencabutkan rasa gerun dari hati musuhmu dan memasukkan perasaan wahn ke dalam hatimu.” - (HR Abu Daud).

Ummah ini tidak akan bangkit jika terus lena. Tidak akan kuat jika terus berpecah. Umat Islam harus menyedari kelemahan dan bersikap proaktif untuk perbaiki diri dan masyarakat. Tanamkan kalimah La ilaha illallah bukan hanya di lidah, tetapi dalam sistem nilai dan tindakan. Mulakan gerakan Ghazwul Fikri - satu revolusi atau reformasi pemikiran untuk ubah situasi getir ini.

Setiap Muslim harus menjadi agen perubahan dalam bidang masing-masing. Para pemimpin wajib berlaku adil dan amanah. Para guru harus mendidikdengan nilai-nilai Islam. Golongan usahawan perlu jauhi riba dan penipuan. Dan pengamal media wajib menegakkan kebenaran dan sebarkan dakwah, bukan maksiat.

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah apa yang ada pada sesuatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki untuk menimpakan kepada sesuatu kaum bala bencana (disebabkan kesalahan mereka sendiri), maka tiada siapapun yang dapat menolak atau menahan apa yang ditetapkanNya itu, dan tidak ada siapapun yang dapat menolong dan melindungi mereka selain daripadaNya.”-(Surah Ar-Ra’d, Ayat 11)

KEMISKINAN MEMBAWA KEKUFURAN

BANYAK hadis Nabi s.a.w yang memberi penilaian bahawa kemiskinan adalah satu penyakit berbahaya yang dikhuatiri meninggalkan kesan buruk ke atas akidah, akhlak dan pemikiran seseorang, malah kepada kaum itu sendiri. Penyakit ini mudah menonjol terutamanya di kalangan orang yang menghadapi kemiskinan yang teruk dan tinggal berhampiran dengan orang kaya yang buruk budi pekertinya serta kedekut yang amat sangat.

Kemiskinan adalah satu bala yang sama dengan penyakit berjangkit, justeru ia boleh membawa seseorang itu menjadi kufur. Rasulullah s.a.w bersabda yang bermaksud: "Kepapaan itu hampir-hampir membawa kepada kekufuran."

Hadis ini menjelaskan bahawa sering kali orang menjadi kufur kerana tekanan-tekanan ekonomi dan kesulitan untuk memperoleh rezeki. Orang yang asalnya baik akan berubah menjadi tidak amanah. Perempuan yang memelihara kehormatan diri menjadi tidak sanggup lagi memeliharanya kerana tekanan ekonomi.

Oleh itu Islam mewajibkan setiap umatnya agar bekerja keras dan berusaha mencari rezeki demi membela diri mereka daripada kemiskinan dan kekufuran. Islam menilai orang yang bekerja dan berusaha itu sebagai jihad.  Allah menjadikan bumi dan isi kandungannya semata-mata untuk manusia, tetapi manusia tidak akan dapat menikmati sepenuhnya melainkan dengan titik peluh usaha mereka sendiri.

Meninggalkan pekerjaan dan usaha mencari rezeki atas alasan untuk beribadah kepada Allah sahaja adalah bertentangan dengan konsep Islam yang sebenar. Sesungguhnya Allah tidak mengubah apa yang ada pada sesuatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri. (Surah al-Ra'd ayat 11).

Umat Islam harus cemerlang dalam hal duniawi tanpa mengabaikan akhirat. Kualiti hidup di dunia inilah yang membawa kepada kejayaan manusia merubah daripada kemungkaran kepada yang makruf. Manusia diperintah oleh Allah untuk mencari rezeki bagi keperluan hidupnya dan juga diperintah untuk mencari rezeki yang lebih di muka bumi ini bagi tujuan membantu orang lain yang tidak berkecukupan.

Allah berfirman dalam Surah al-Jumu'ah ayat 10 yang bermaksud:
"Kemudian setelah selesai sembahyang maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah apa yang kamu hajati dan limpah kurnia Allah, serta ingatlah akan Allah banyak-banyak supaya kamu berjaya."

Di sisi lain pula al-Quran mengecam mereka yang mengharamkan hiasan duniawi yang diciptakan Allah bagi umat manusia. Katakanlah (Wahai Muhammad) Siapakah yang berani mengharamkan perhiasan Allah yang telah dikeluarkan untuk hamba-hamba-Nya dan demikian juga benda-benda yang baik lagi halal daripada rezeki yang dikurniakannya. (Surah al-Baqarah ayat 32).

Al-Quran kemudian menyebut bahawa Allah menjanjikan pengampunan dan anugerah yang berlebihan, sedangkan syaitan pula menjanjikan kefakiran. Sesungguhnya Islam tidak pernah menganggap mulia atau mentakdirkan kemiskinan sebagai satu cara untuk mencapai ketinggian rohani. Hadis-hadis yang memuji kehidupan zuhud di dunia bukanlah bererti memuji kemiskinan. Adalah satu kesilapan yang besar bagi setengah orang yang menganggap bahawa kemiskinan bukanlah satu keburukan yang perlu diatasi dan juga bukan penyakit yang perlu diubati, ia adalah satu nikmat Allah yang dikurniakan kepada sesiapa di antara hambanya agar hatinya sentiasa berhubung dengan akhirat dan benci pada dunia.

Islam tidak datang hanya untuk mengajarkan zikir dan doa tetapi untuk membebaskan manusia daripada beban penderitaan kepada hidup yang bahagia. Hidup tidak mahu berusaha dan hanya meminta belas kasihan orang lain tidak dipersetujui oleh Islam.

Tangan yang di atas (yang memberi) lebih mulia daripada tangan yang di bawah (yang meminta-minta). (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim).

Islam jelas menolak sesetengah golongan yang menyanjung kemiskinan dan menganggap kekayaan sebagai dosa. Demikian juga yang menganggap kemiskinan sebagai qadar yang tiada jalan untuk mengelaknya. Ini semua pandangan ekstrem yang terpesong daripada jalan yang lurus sepertimana yang dituntut oleh ajaran Islam yang sebenar.

Hubungi Kami

Alamat:
No.5B, Jalan 3/70 Damai Point, Seksyen 3, 43650 Bandar Baru Bangi. Selangor

Telefon: +60 17-377 7732
Email: alfalahmadani2022 [@] gmail.com

Jumlah Pengunjung

074817
Hari ini: 409
Minggu Ini: 409
Bulan Ini: 1,284
Tahun Ini: 74,817
Tahun Lepas: 52,147
Image

Alfalahmadani.my merupakan sebuah portal yang bertanggungjawab untuk bertindak sebagai penampan bagi setiap tuduhan, fitnah, kekeliruan, ketidakfahaman dan kecelaruan yang berlegar di minda rakyat. Sama ada isu-isu yang timbul secara organik di media sosial, ataupun yang didorong sebagai naratif oleh pihak-pihak tertentu,

Alfalahmadani.my akan menjawab setiap permasalahan dengan pengetahuan, kebijaksanaan dan kebenaran. Tentunya, kehadiran Alfalahmadani.my bukan berhasrat menyatakan kesempurnaan pemikiran, tetapi sebagai wahana untuk menuju kesempurnaan pengetahuan dalam konteks pemikiran semasa, dan kebijaksanaan yang mampu diusahakan.