HUJAN DAN PAYUNG

KETIKA hujan mengguyur atau terik matahari menyinari bumi, kehadiran payung begitu penting. Manusia berusaha mencari payung agar tak basah atau sengatan panas matahari.

Meski kadang berat, payung tetap diangkat ke atas untuk menutupi seluruh tubuh agar tak kehujanan atau kepanasan. Ketika itu, tak peduli kualitas, bentuk, warna, harga, atau ukurannya. Hujan, panas, dan payung merefleksikan sifat manusia yang selalu mencari "payung" untuk melindungi diri menghadapi "badai dan panasnya" asa kehidupan.

Namun, tatkala hujan reda dan terik mata-hari meredup, kehadiran payung tak diperlu-kan. Payung terdampar di pojok ruangan.Tak ada yang mau menyentuh apalagi membawanya. Payung serasa begitu berat dan memalukan untuk dibawa. Demikian nasib payung dan wujud perlakuan manusia terhadapnya. Bak pepatah "habis manis sepah dibuang" yang mengingatkan watak manusia yang tak tau balas budi (berterimakasih). Fenomena sederhana dan lazim, tapi mengajarkan tentang karakter dan sifat manusia, yaitu: 

Pertama, hujan menyirami dan matahari menyinari bumi dengan membawa asa kehidupan. Keduanya hadir tanpa memilih tempat, strata sosial, dan janji pundi-pundi. Semua didatangi dengan kesetaraan. Hal ini sesuai firman-Nya : "Dan dari langit Kami turunkan air yang memberi berkah, lalu Kami tumbuhkan dengan (air) itu pepohonan yang rindang dan biji-bijian yang dapat dipanen" (QS. Qaf : 9).

Namun, hujan bisa berubah ganas dan memusnahkan semesta sebagai penyampai murka Allah atas umat yang berbuat kemungkaran. Berbagai bentuk murka-Nya (azab) telah menimpa umat nabi Nuh (QS. Hud : 42-44), Fir'aun dan bala tentaranya (QS. al-Baqarah : 50), kaum nabi Luth (QS. asy-Syu'ara' : 173), kaum 'Aad (QS. al-Ahqaf : 24), atau kaum Saba' (QS. Saba' : 16). Namun, manusia acapkali lupa diri ketika memper-oleh nikmat dan tak sadar atas murka-Nya.

Kedua, Payung simbol keikhlasan dan ketulusan. Payung selalu siap melindungi tanpa pamrih. Berdiri tegak dan mengembangkan dirinya sebagai benteng pelindung di saat manusia membutuhkan perlindung-an dari panas, hujan, atau bahaya lainnya. Ia "korbankan" dirinya untuk keselamatan orang lain. Keikhlasannya menolong tanpa validasi dan puji. Sungguh, payung sedang mengimplementasikan ayat-Nya: "...Dan barangsiapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia..." (QS. al-Maidah : 32).

Merujuk pada tafsir Ibn Katsir, ayat di atas menjelaskan sifat bani Israil yang terbiasa berlaku zalim. Sifat nista bani Israil seakan diteruskan umat akhir zaman. Bukan hanya membunuh dalam makna fisik, tapi lebih pada "membunuh masa depan" peradaban dengan merekayasa kemungkaran seakan berwujud kebenaran. Manusia bisa saja ter-tipu, tapi Allah Maha Mengetahui atas tipuan yang dilakukannya (QS. al-Baqarah : 9).

Ketiga, Menunjukan karakter asli "payung". Dalam makna ini, ada 2 (dua) jenis payung, yaitu : (1) payung pelindung kebaikan dari ancaman keburukan. Dengan demikian, kebajikan dan kebaikan lebih leluasa untuk mewarnai peradaban (QS. Ali Imran: 110) yang membawa ruh rahamat-an lil 'alamin. Karakter payung jenis ini akan membangun aliran "sungai amal jariyah". (2) payung pelindung para pelaku kejahatan untuk leluasa melakukan berbagai kemungkaran. Akibatnya, peradaban hanya membawa kerusakan atau mafsadah lil 'alamin (QS. ar-Rum : 41). Karakter payung jenis ini akan membangun aliran "sungai dosa jariyah". Jalur yang tak diinginkan, tapi diperebutkan. 

Keempat, Penunjuk sifat kemunafikan yang nyata. Ketika memerlukan sesuatu, semua cara dilakukan untuk memperoleh simpati "juru penolong" agar dirinya selamat atau mendapatkan apa yang diinginkan. Tak peduli besarnya energi yang dicurahkan, waktu, biaya, pujian diapungkan. Bahkan, "sesembahan dan sesajian" disuguhkan tanpa peduli halal dan haram. Semua ditujukan untuk memenuhi hasrat nafsu duniawi meraih apa yang diinginkan. 

Kelima, Lupa diri dan tak tau diri. Sifat ini dinukilkan dalam pepatah "habis manis sepah dibuang". Ketika hujan reda dan panas tak lagi menyengat, payung sering kali dilipat dan dianggap sebagai beban atau ditaruh di sudut ruangan yang sepi, kotor, dan diabaikan. Simbol ironi sosial ketika sifat manusia terkadang melupakan atau mengabaikan orang lain setelah pertolongan atau jasanya tidak lagi dibutuhkan. Sebab, ketika keperluan dan hasrat telah terpenuhi, begitu mudah mencampakan "sosok penolong" atau media yang telah membantunya. Jangankan media penolong berwujud benda atau sesama manusia, bahkan terhadap Allah Yang Maha Kuasa kadangkala ditinggalkan bila keinginan yang dimunajatkan telah diraih. 

Sungguh, ketika keinginan memuncak, manusia siap mengemis, menjilat, dan rela "menghinakan diri". Namun, ketika keinginan telah diraih, maka terlihat nyata wujud aslinya. Tampil dengan kesombongan, merasa hebat, suci, mulia, dan pongah melebihi iblis. Bahkan, begitu Allah buka aibnya, ia tetap berkelit mencari kambing hitam tanpa rasa bersalah. Tetap pasang jurus "tebal muka" (tanpa malu) dan tebar pesona melalui kemunafikan. Meski Allah telah mengingatkan, tapi acapkali didusta-kan.

Allah berfirman : "Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, satu sama lain adalah sama; mereka menyuruh berbuat yang mungkar dan mencegah perbuatan yang makruf dan mereka menggenggamkan tangannya (kikir)..." (QS. at-Taubah : 67).

Menurut Ibn Katsir, ayat di atas menjelaskan tentang sifat orang munafik. Mereka pelaku atau mendukung kesesatan komu-nitasnya. Untuk itu, Allah akan membiarkannya dalam kesesatan sebagai balasan atas kekufuran yang dilakukannya.

Meski kekufuran begitu nyata, tapi tak ada yang peduli untuk memperbaikinya. Semua terdiam karena tak lagi tersisa rasa malu melihat semua kemungkaran. Akibatnya, kemungkaran demi kemungkaran menjadi fenomena yang "lumrah" dan begitu bebas. Sosok yang demikian begitu nista. Untuk itu, Rasulullah ﷺ menjelaskan melalui sabdanya : "..... Jika engkau tidak malu, berbuatlah sesukamu'" (HR. Bukhari).

Bagi hamba-Nya yang memiliki ruh iman dan rasa malu akan merasa diawasi oleh Allah SWT. Dengan demikian, ia akan terhindar dari perbuatan dosa dan maksiat, baik saat sendiri (personal) maupun di tempat ramai (kolektif). Namun, hamba yang tercabut rasa malu akan menyandarkan tujuan hidup pada "nafsu duniawi". Mereka begitu bebas melakukan semua kemaksiatan yang diinginkan. Tapi, Allah tak pernah mengingkari semua janji-Nya. Kebebasan berbuat maksiat merupakan bentuk kehinaan manusia yang disetara-kan dengan hewan, bahkan lebih hina (QS. al-A'raf : 179). Pada waktunya, Allah akan buka semua tipu daya yang pernah dilaku-kan. Janji yang tertuang pada firman-Nya : "Atau apakah orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya mengira bahwa Allah tidak akan menampakan ke-dengkian mereka ?" (QS. Muhammad : 29).

Ayat di atas menyindir kaum munafik yang mengira kejahatan yang mereka sembunyi-kan akan tertutup rapi. Ketika waktunya tiba, Allah pasti akan membukanya. Namun, anehnya meski semua terbuka begitu nyata, tapi manusia tak pernah sadar dan terus berbuat kesalahan serupa. Semua akibat hilangnya ruh iman dan rasa malu. 

Pepatah bijak mengatakan "sedia payung sebelum hujan". Pepatah ini mengingatkan agar manusia selalu waspada, mempersiapkan diri, dan berikhtiar sebelum rintangan atau kesulitan datang menghampiri. Payung disiapkan saat langit masih cerah. Sebab, cuaca bisa berubah sewaktu-waktu. Dalam konteks ini, manusia yang bijaksana tak me-nunggu datangnya masalah, tapi menganti-sipasi agar gerak kehidupannya tak menim-bulkan masalah. Ia selalu membentengi diri dengan iman, ilmu, akhlak, dan rencana cadangan sebagai bentuk ikhtiar menghadapi ketidakpastian. Namun, sehebat apa pun sebuah payung sebagai pelindung tetap memiliki keterbatasan. Jika badai terlalu besar dan angin begitu kencang, payung bisa terbalik dan rusak. Simbol pengingat pada manusia yang sombong (jumawa) atas kuasa atau "pelindung" yang dimiliki. Pada waktunya, "payung akan tertutup" dan tersimpan dipojok ruangan. Sebab, semua yang "baharu" pasti memiliki keterbatasan. Meski sebelumnya begitu digdaya melin-dungi, tapi pada waktunya justeru perlu bantuan dan pertolongan (vertikal atau horizontal). Sebab, hanya Allah Yang Maha Kuasa dan "payung hakiki". Ketika hamba melupakan Allah, maka kelak Allah akan melupakannya. Hal ini sesuai firman-Nya : "Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasik" (QS. at-Taubah : 67).

Menurut ath-Thabari, ayat di atas menjelas-kan karakter orang munafik dan fasik yang melupakan Allah. Untuk itu, Allah SWT akan membiarkannya jauh dari kebenaran dan rahmat-Nya. Mereka adalah orang yang tergelincir dari jalan ketaatan dan masuk ke dalam lingkaran kekufuran. Namun, meski begitu nyata kefasikan yang terjadi, tapi para pemuja "payung koyak" selalu membelanya. Padahal, ia sadar akan "basah, hanyut, tenggelam, terbakar" oleh air hujan atau panasnya matahari yang meluluhlantakkan alam semesta. Semua akibat ulah pembela kemungkaran segelintir manusia, tapi berdampak masif. Sungguh akal dan hati telah terkunci. Isinya berupa kotoran bak udang. Untuk itu, wajar bila kezaliman menjadi kesenangan. Namun, ketika murka-Nya hadir, semua hanya menyelamatkan diri tanpa peduli pada payung yang  dimulia-kan dan dipuja. Hanya tersisa penyesalan yang tak berguna. Semua pihak akan me-manen atas apa yang ditanamnya (QS. asy-Syura : 20). Sungguh, kenikmatan duniawi hanya sementara, tapi nilai perbuatan akan abadi dan dipertanggungjawabkan dihadap-an Allah. Ketika itu, manusia tak lagi mampu menutupi dan merekayasa semua kemung-karan yang pernah dilakukannya.

Wa Allahua'lam bi al-Shawwab.***

Prof Samsul Nizar adalah Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis

 

PERTAHAN KEINDAHAN DALAM MEMBERI NAMA

SESUNGGUHNYA Allah itu indah dan menyukai keindahan dan kebaikan Nabi Muhammad s.a.w bersabda yang bermaksud: Allah itu baik dan tidak akan menerima selain kebaikan sahaja. Di antara keindahan itu ialah memberi nama yang baik bagi anak dan tidak memberi nama yang mengandungi makna buruk. Islam adalah agama kemudahan seperti yang disebut dalam firman Nya yang bermaksud: Allah menghendaki kemudahan bagi kamu. (Al-Baqarah, ayat 185).

Justeru, Islam selalu menginginkan kemudahan meskipun hal-hal yang berkaitan dengan pemberian nama, dan Islam tidak menyukai sebarang kesulitan dan kekerasan meskipun juga menyentuh soal pemberian nama. Sebenarnya kita berasa pelik dan hairan dengan cadangan pihak-pihak tertentu supaya nama yang sudah baik ditukarkan kepada yang kurang baik. Di manakah logiknya dan apakah asasnya? Kemungkinan dalil yang mereka pegang adalah berdasarkan firman Allah yang bermaksud: Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapa-bapa mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah. "( Al-Ahzab, ayat 5)

Sebenarnya ayat ini diturunkan khusus mengenai anak-anak angkat yang dibinkan dengan nama bapa angkat mereka. Pada hakikatnya, ayat ini diturunkan untuk menolak adat jahiliah yang sengaja membahasakan anak angkat kepada bapa angkatnya. Setelah turun ayat ini, Nabi Muhammad s.a.w sendiri melarang supaya jangan memanggil Zaid (anak angkatnya) bin Muhammad, tetapi memanggilnya dengan nama bapa kandung, Harithah.

Dalam hal ini, terdapat hadis yang menyebut bahawa Baginda menukarkan nama sahabatnya yang kurang elok supaya lebih elok dan menarik. Rasulullah juga memerintahkan ibu bapa memberi nama anak-anak mereka dengan nama yang baik-baik. Baginda memberi nama anak Abu Thalhah dan Al-Abbas dengan nama Abdullah pada hari kelahirannya. Demikian juga anaknya sendiri, Baginda memberi nama Ibrahim seperti nama bapa para Nabi, iaitu Nabi Ibrahim a.s.

Dan tidak pernah kita dengar Baginda ada melakukan sebaliknya, iaitu menukar nama yang sudah baik dengan nama yang tidak baik. Dari segi akidah, Islam melarang umatnya memberi nama anak-anak mereka dengan nama-nama yang boleh menyentuh kesucian akidah tersebut seperti nama Allah, Malikul Muluk, Syahinsyah dan sebagainya. Diriwayatkan bahawa seorang ibu telah menamakan anaknya dengan nama Allah, kemudian akhirnya anak itu mati dipanah petir yang turun dari langit.

Sesungguhnya Nabi Muhammad s.a.w telah mengubah nama-nama yang membawa pengertian buruk dan juga nama-nama yang elok, tetapi tidak boleh digunakan menjadi nama. Nabi mengubah nama Ashiyah menjadi Jamilah (cantik atau indah), Hasran (rungsing dan kecewa) menjadi Zarah (subur), uham menjadi Basyir (menyampai berita gembira).

Kita disunatkan memilih nama yang baik- baik, bukan menukarkan nama seperti nama Allah. Yang disarankan ialah Abdullah, bermakna hamba Allah. Dikatakan nama Allah sudah digunakan sebelum kedatangan Islam lagi. Ayahanda Nabi Muhammad s.a.w sendiri bernama Abdullah (hamba Allah). Bahkan seorang tokoh munafik di Madinah juga bernama Abdullah ibn Ubay. Dalam hal ini, Allah s.w.t mengajar kita supaya menyeru kepada-Nya (berdoa) dengan menggunakan nama-nama-Nya (Asma Husna) yang baik.

Katakanlah, serulah Allah atau al-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu menyeru-Nya, kepunyaan-Nya nama-nama yang baik itu. Dan jangan keraskan (nyaringkan) doamu pula , dan jangan engkau sembunyikan suara doamu. Carilah jalan antara kedua-duanya. (Al-Isra, ayat 110)

ANCAMAN TERHADAP PENGGANGGU KOTA MADINAH

Madinah Al-Munawarah merupakan salah satu kota suci umat Islam yang didalamnya terdapat jasad manusia paling mulia yaitu Rasulullah SAW, tepatnya dikawasan Masjid Nabawi.

Kota Madinah memiliki keistimewaan sebagai pernah disabdakan oleh Rasulullah SAW yang bermaksud:

"Barang siapa menginginkan kejahatan pada penduduk negeri ini -Madinah- maka Allah melelehkannya seperti garam meleleh dalam air" (HR. Muslim).

Sebagian ulama mengatakan maksudnya adalah ingin memerangi dan merubah Madinah [Syarah Muslim]

Didalam hadits lain, Rasulullah SAW mengingatkan yang bermaksud :

"Barangsiapa yang menakut-nakuti penduduk Madinah secara aniaya, niscaya Allah menjadikannya takut dan dia mendapatkan laknat Allah, Malaikat dan manusia semuanya. Allah tidak menerima taubat ataupun tebusan darinya pada Hari Kiamat nanti." (HR Imam Ahmad)

Sumber: muslimedianews.com

KEANGKUHAN MANUSIA: MENGULANGI KESILAPAN UMAT TERDAHULU

Dan (ingatkanlah juga peristiwa kebinasaan) Qarun dan Firaun serta Haman. Dan demi sesungguhnya Nabi Musa telah datang kepada mereka membawa keterangan-keterangan (mukjizat) yang jelas nyata, lalu mereka berlaku sombong takbur di bumi (mendustakannya), padahal mereka tidak dapat melepaskan diri (dari azab Allah). - (Surah Al-Ankabut, Ayat 39)

Al-Quran berulang kali mengingatkan kita tentang kaum-kaum terdahulu yang ditimpa kehancuran. Firaun, Qarun, Kaum ‘Ad, Kaum Nabi Shu’aib, Namrud, bahkan Kaum Nabi Lut. Semua dari mereka ini memiliki satu penyakit yang sama, takabbur dan enggan bergantung kepada Allah SWT . Mereka percaya pada kuasa, kekayaan, kekuatan, dan hawa nafsu mereka sendiri. Tetapi akhirnya, kesombongan itu telah membawa mereka kepada azab Allah SWT.

Kaum Ad merupakan saudara jauh kaum Thamud. Kemahiran kaum Ad dalam membina bangunan yang besar dan kota diaplikasikan oleh kaum Thamud sesudahnya.

Tetapi malang sekali kerana kesombongan kaum ini kota megah ini tidak mampu bertahan lama apabila Allah swt menghantar puting beliung dan angin ribut yang kuat yang memusnahkan segala kemegahan mereka sehingga menjadi debu tanpa jejak.

Daripada kisah daripada Al-Quran mengenai kemusnahan kaum Ad, kita dapat melihat bagaimana kota Iram yang dijadikan sebagai kota perdagangan yang berfungsi sebagai pusat pertukaran barang dagangan oleh kaum Ad yang memiliki pelbagai kemudahan, pengaruh dan pertahanan, akhirnya hancur dibenam ke dalam padang pasir oleh Allah swt dalam tempoh masa 8 hari 7 malam sahaja.

Kaum Ad yang telah diberi peluang oleh Allah swt untuk menyembahnya setelah diberikan pelbagai kenikmatan dunia tidak mampu diselamatkan dengan kesombongan dan kekafiran mereka dalam menyekutukanNya. Pengajaran yang sudah dikhabarkan tidak didengar, malahan ianya memakan diri. Keagungan kota Iram dan kemegahan kaum Ad ditamatkan oleh Allah swt dan peninggalan mereka masih tidak diketahui keberadaannya. Ianya masih kekal menjadi sebuah tanda tanya kepada umat manusia.

Kisah secara terperinci mengenai Nabi Lut a.s. bersama umatnya yang mengisahkan penyelewengan akhlak mereka, dakwah Nabi Lut kepada umatnya agar dibersihkan perlakuan mereka yang salah, penolakan dakwah oleh umatnya serta menerangkan azab dan seksa ke atas umatnya. Dan jangan kita lupakan Kaum Nabi Lut. Mereka menolak fitrah, menghalalkan hubungan sejenis, dan menjadikan maksiat sebagai budaya. Allah merakamkan dalam Surah Al-A’raf ayat 81:

“Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan syahwatmu, bukan kepada perempuan. Bahkan kamu ini kaum yang melampaui batas.”

Kesombongan mereka bukan pada kuasa atau harta, tetapi pada nafsu yang diangkat menjadi agama. Akhirnya, mereka dibinasakan dengan hujan batu dari tanah yang terbakar, sebagai pengajaran kepada umat manusia sehingga hari ini.

Di dalam kisah Nabi Musa AS, Firaun adalah simbol politik zalim. Dia bukan sahaja menindas Bani Israel, malah mengaku dirinya tuhan. Firman Allah SWT dalam Surah An-Nazi’at ayat 24 yang bermaksud:

“Maka Firaun berkata: Akulah tuhan kamu yang paling tinggi.” - (Surah An-Nazi’at, ayat 24)

Namun, kekuasaannya tenggelam bersama dirinya di Laut Merah. Sehebat mana pun kuasa politik manusia, ia tetap tidak mampu menandingi kuasa Allah SWT. Apabila Fir’aun mengaku dirinya sebagai tuhan, maka hilang kebergantungannya kepada Allah SWT secara total. Lalu dia dijadikan simbol keangkuhan, sebagai peringatan kepada seluruh umat manusia setelahnya.

Qarun pula adalah lambang kesombongan harta. Dia merasa bahawa kekayaannya datang dari ilmunya sendiri. Allah SWT merakamkan kata-katanya dalam Surah Al-Qasas ayat 78 yang bermaksud:

“Sesungguhnya aku hanya diberi harta ini kerana ilmu yang ada padaku.” - (Surah Al-Qasas, Ayat 78)

WARISAN NASIHAT UNTUK MANUSIA

Ahli hikmah dari Habsyah (Ethiopia) ini bernama Luqman al-Hakim. Menurut al-Quran, Allah s.w.t menganugerahkan hikmah kepadanya sehingga beliau digelar Luqman al-Hakim (Luqman yang dianugerahi hikmah).

Nama penuhnya ialah Luqman bin Baura. Beliau berketurunan Azar, ayah Nabi Ibrahim a.s. Dalam Tafsir al-Kasysyaf (karya al-Zamakhsyari), Luqman digambarkan sebagai seorang lelaki yang berkulit sangat hitam dan berwajah buruk dengan bibir yang sangat tebal.

Namun, hati dan akhlaknya tidak seburuk wajahnya. Hatinya amat tulus dan akhlaknya sangat terpuji. Kata-kata hikmah sebagai nasihat selalu keluar dari bibirnya.

Menurut cerita tradisi Bani Israel, Luqman selalu mengeluarkan kata-kata hikmah (ucapan yang sesuai dengan kebenaran) sehingga akhirnya banyak diketahui masyarakat.

Seseorang pernah bertanya kepadanya, “Bukankah kamu bekas hamba si fulan?” Luqman menjawab, “Benar.” Orang itu lalu bertanya lagi, “Tetapi apa yang membuat kamu terkenal seperti sekarang?” Beliau menjawab, “Kekuasaan Allah s.w.t. Aku selalu berkata benar dan meninggalkan sesuatu yang tidak berfaedah serta selalu menunaikan amanah yang diberikan kepadaku.”

Dalam tafsir al-Qurtubi, tertulis bahawa ada tiga orang yang berkulit hitam tetapi sangat terkenal dalam sejarah, iaitu Bilal bin Rabah, Mahja’ (hamba Umar bin al-Khattab), dan Luqman al- Hakim.

Ada riwayat yang menyebut bahawa pada suatu hari seseorang terkejut melihat susuk tubuh Luqman yang hitam legam dan berbibir tebal. Pada waktu itu, Luqman mengatakan,“Sekalipun bibirku ini tebal, tetapi apa yang keluar dari mulutku adalah kata-kata hikmah. Dan sekalipun kamu terkejut melihat kulitku yang hitam legam, namun hatiku putih bagaikan kaca bersih.”

Isteri majikan Luqman pernah marah kepada suaminya. Suaminya lalu mencari juadah (makanan yang lazat) untuk isterinya, kemudian meminta Luqman untuk menyerahkan makanan itu kepada kesayangannya (maksudnya isterinya). Setibanya di rumah, Luqman memberikan juadah itu kepada anjing majikannya, bukan kepada isterinya. Setelah pulang majikannya bertanya kepada isterinya adakah beliau sudah menerima juadah yang dikirim melalui Luqman. Isterinya berkata, “Luqman tidak membawa sesuatu pun untukku. Suaminya marah lalu memanggil Luqman.

Luqman menjawab, “Hamba telah memberikan juadah itu kesayangan tuan seperti yang tuan pesan, iaitu anjing tuan.” Luqman menambah, “Anjing itulah yang seharusnya disayangi kerana sekalipun dihina dan disakiti, ia tidak meninggalkan tuan, manakala isteri tuan sebenarnya bukanlah kesayangan Tuan kerana beliau sering meminta cerai sekalipun tidak dihina, apalagi dipukul.”

Kemuliaan seseorang di hadapan Allah s.w.t tidak terletak pada keturunannya, tetapi pada ketakwaan dan akhlaknya. Luqman adalah salah seorang yang bertakwa dan berakhlak mulia. Ketakwaan dan kemuliaan akhlaknya dijadikan teladan dalam al-Quran. Ketakwaannya kepada Allah s.w.t ditunjukkannya melalui nasihat kepada anak lelakinya, An’am atau Asykam, misalnya tidak menyekutukan Allah s.w.t kerana perbuatan itu merupakan kezaliman yang amat besar (Q.31:13). Kemuliaan akhlaknya ditunjukkan melalui nasihat supaya tidak bersikap sombong dan angkuh kepada sesama manusia (Q.31:18) dan perkataan lembut kerana seburuk-buruk suara ialah suara keldai (Q.31:19).

Hubungi Kami

Alamat:
No.5B, Jalan 3/70 Damai Point, Seksyen 3, 43650 Bandar Baru Bangi. Selangor

Telefon: +60 17-377 7732
Email: alfalahmadani2022 [@] gmail.com

Jumlah Pengunjung

121133
Hari ini: 206
Minggu Ini: 206
Bulan Ini: 844
Tahun Ini: 121,133
Tahun Lepas: 52,147
Image

Alfalahmadani.my merupakan sebuah portal yang bertanggungjawab untuk bertindak sebagai penampan bagi setiap tuduhan, fitnah, kekeliruan, ketidakfahaman dan kecelaruan yang berlegar di minda rakyat. Sama ada isu-isu yang timbul secara organik di media sosial, ataupun yang didorong sebagai naratif oleh pihak-pihak tertentu,

Alfalahmadani.my akan menjawab setiap permasalahan dengan pengetahuan, kebijaksanaan dan kebenaran. Tentunya, kehadiran Alfalahmadani.my bukan berhasrat menyatakan kesempurnaan pemikiran, tetapi sebagai wahana untuk menuju kesempurnaan pengetahuan dalam konteks pemikiran semasa, dan kebijaksanaan yang mampu diusahakan.